Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2015

sejarah : meluruskan sejarah Trenggalek kota gaplek yang terlupakan


karya ini saya ambil utuh dari saudara Teguh Budiharso, Universitas Mulawarman yang diterbitkan oleh harian Lingua,  Volume 12, Nomor 1, Maret 2015, Halaman 139-156. terimakasih yang sebesar besarnya pada beliau karena telah memberikan sepercik cahaya dibalik kebenaran sejarah kota Trenggalek. bagi yang ingin mengutip jangan lupa mencantumkan sumbernya ya. .


 
MELURUSKAN SEJARAH TRENGGALEK KOTA GAPLEK: 

STUDI HEURISTIK FOKLOR PANEMBAHAN BATORO KATONG, 

JOKO LENGKORO DAN MENAK SOPAL [1]



Abstract:  This study is aimed at describing toponymy of Trenggalek emphasizing on identification of local foklor about Batoro Katong, Joko Lengkoro and Menak Sopal.  This study uses qualitative approach assigning heuristic and phenomenology as the method of inquiry.  Primary sources such as documents on the foklor, babad, inscriptions, and sites of history were analyzed.  Indepth analyses pertaining to the exploration using indepth interview and discussion were conducted involving various informants.  This study reveals that Trenggalek derived from Galek,  identifying a city that produced gaplek.  Since early Matarm, gaplek had been produced in Trenggalek.  In support to the name, Galek has been interpreted as the identity of “terang” and “galih” aspiring that Galek has received greatness of the King in Demak.  Trenggalek did not exist in the era of Mataram, Majapahit, Demak, and Pajang Kingdom as a regency, however, its status as sima parashima, received since King Sindok in 929 AD up to Majapahit ruling indicated that Trenggalek was a prominent area.  To some extents, Trenggalek has received discrimination in the government administration but the history remains to promote the legacy of Trenggalek as an autonomy regency.         

            Key-words:  Trenggalek, toponymy,  King Sindok.


 Tulisan ini mengkaji seara kritis sejarah Trenggalek berdasarkan studi heuristik tiga cerita tutur baik lisan, babad, maupun manuskrip mengenai Panembahan Batoro Katong Ponorogo, cerita tutur Joko Lengkoro atau Mbah Kawak, dan cerita turur Menak Sopal.  Sejauh yang bisa ditelusuri, sumber sejarah Trenggalek tertulis baru berupa cerita mengenai Menak Sopal yang melegenda dan dianggap sebagai Bupati Trenggalek yang pertama, pahlawan petani, dan penyebar Islam pertama di Trenggalek.  
Secara umum, sejarah Trenggalek banyak didasarkan pada cerita tutur yang berpangkal pada cerita Menak Sopal (1498-1568) yang hidup  pada zaman Sultan Hadiwijoyo (1549-1582) bertahta di Pajang Kartasura sekarang.  Kisah ini diinterpretasi oleh banyak pihak menggunakan berbagai versi dan melahirkan cerita sejarah yang simpang siur.  Pemerintah
Kabupaten Trenggalek sendiri juga “kurang peka” pada situasi ini sehingga sampai saat ini Pemerintah Kabupaten Trenggalek lebih berpatokan pada cerita dongeng sebagai rujukan sejarah Trenggalek. Interpretasi yang muncul di blog baik situs resmi Pemkab Trenggalek maupun blog pribadi juga tidak bisa dijadikan rujukan.  Padepokan Dewadaru misalnya dalam blognya menjelaskan kata Trenggalek sebagai lintang trenggono yang hilang dan jatuh di wilayah Trenggalek.  Trenggono dipersepsikan sebagai Sultan Demak terakhir sebelum Demakruntuh dan dipindahkan ke Pajang oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadi Wijoyo, menantu Sultan Trenggono.     
 Satu-satunya buku sumber yang memiliki bobot ilmiah cukup ialah Babon Sejarah Trenggalek yang disusun pada 1982 oleh tim penyusun sejarah Trenggalek bersama-sama konsultan sejarah dari IKIP Malang.  Babon Sejarah Trenggalek ini memuat keterangan yang akurat pada sisi tertentu.  Secara panjang lebar, penulis sejarah Trenggalek, termasuk Pemkab Trenggalek, blogger, dan penulis lain mendasarkan pada uraian tersebut.  Dengan bangga, mereka mengutip deskripsi sejarah Trenggalek dikelompokkan ke dalam tiga periodisasi: pra-sejarah, perdikan, dan keemasan.  
 Trenggalek dibanggakan sebagai daerah yang cukup tua dalam sejarah tetapi para penulis menjadi tidak kritis ketika Trenggalek disebut sebagai daerah “di bawah naungan” wilayah lain.  Penulis yang dengan bangga menyebut Trenggalek sebagai bagian Tulungagung ialah yang menyebut dirinya Siwi Sang.  Penulis lain akhirnya cukup mengamini saja bahwa sejarah Trenggalek “tidak mandiri” tetapi menjadi bagian dari Tulungagung.  
             Tulisan ini dimulai dari fakta sejarah tentang keberadaan Trenggalek, dan pelurusan beberapa pernyataan yang bisa menjadi stikma.  Diharapkan pemangku kebijakan bisa menyusun alur sejarah Trenggalek yang baku agar cerita yang disusun setelahnya oleh siapapun tidak simpang siur dan tidak membingungkan generasi penerus.   

Selasa, 01 September 2015

Belajar Biologi ala Abmi

menjadi seorang guru di pedalaman khususnya Abmisibil, Peg. Bintang Papua itu susah susah gampang. susah ketika materi tak tersampaikan seperti yang diharapkan di awal, gampang ketika murid yang diajar nyambung dengan apa yang kita omongkan. ya sesederhana itu. KOK bisa? memang begitulah kenyataannya. jika Guru di belahan Indonesia lain khususnya di pulau Jawa disibukkan dengan K13,media pembelajaran, perangkat sebangsa RPP, LKS, dkk maka menjadi guru di sini gak ribut bin jlimet.tantangan guru di pedalaman sangat besar. jumlah guru terbatas, buku ndak ada dan semacamnya. hadir di sekolah dan mengajar semua siswa sampek dapat ilmu itu sudah sangat LUAR BIASA.
 Aku alumni jurusan Geografi yang idealnya mengajar satu pelajaran,namun karena keterbatasan tenaga pendidik,  disini aku musti menangani siswa dengan sistem kelas tripel, kelas rangkap atau dobel, lintas minat dan lain lain nya. jurus ala bisa karena biasa, jurus kebut semalam dan jurus jurus baru sering kugunakan untuk menyampaikan lentera kehidupa..#edisi alay
kali ini aku ingin berbagi tentang kisah ketika harus mengajar Biologi di kelas X. materi yang di pelajari "ciri ciri makhluk hidup. mulai kutuliskan ciri ciri nya di papan tulis.
- bergerak
- tumbuh dan berkembang
- membutuhkan nutrisi
- peka terhadap rangsangan
- bernapas
-berkembangbiak
- adaptasi dan
- ekskresi
selanjutnya kujelaskan materi satu persatu. di papan sudah kutuliskan masing masing contohnya. ciri pertama bergerak .Manusia ---alat gerak 2 kaki dan 2 tangan. selanjutnya kuminta mereka mencari contoh lain. karena memang kelas rangkap, akhirnya kutinggal ngajar bahasa Inggris di kelas sebelah.
bagi pelajar yang hidup di kota besar, tugas tersebut mungkin biasa bahkan masuk katagori mudah banget. namun berbeda dengan murid saya. tidak adanya media komunikasi, transportasi, buku dan semacamnya membuat mereka kesulitan menerima tugas tersebut. sebagian dari mereka menerima pembelajaran tanpa dipikir alias di telan bulat bulat.
bagaimana tidak..setelah selesai mengajar di kelas bahasa inggris kutengok tugas mereka. perasaan syok luar biasa bagaimana tidak di beberapa buku kudapati
- Anjing : alat geraknya 2 tangan 2 kaki
- babi : alat geraknya 2 tangan 2 kaki
- Burung : 2 tangan 2 kaki dan jawaban sejenis yang bikin saya geleng geleng kepala
terus kutanya sebagian diantara mereka " anak, tangan babi yang manakah?". dengan polosnya mereka menjawab " ibu Guru, tangan Babi yang depan itu sudah". Oh My God makhluk ciptaanMu di daerah ini sungguh luar biasa. dengan kesabaran tinggi akhirnya kuluruskan jawaban mereka satu persatu. kusebutkan hewan hewan lain yang sebangsa mereka. seperti Sapi, Kuda, Kambing, Gajah dll. dengan wajah tak berdosa ada siswa yang bertanya " Bu Guru, sa tak pernah tahu kambing sama sapi, itu hewan mirip babi kah?" dengan kesabaran ekstra akhirnya kugambarkan dan kujelaskan satu persatu. patut dicatat sodara sodara, ketinggian Abmi diatas 3700 mdpl sehingga sangat terbatas makhluk hidup yang ada. biji bijian yang q bawa dari Jawa ndak ada yang bisa hidup saking dinginnya. hewan ternak yang ada di daerah ini hanya babi. semacam sesuatu banget kan..

Minggu, 16 Agustus 2015

sekilas tentang distrik Okbibab, Pegunungan Bintang


Distrik Okbibab berada disebelah utara ibukota kabupaten Pegunungan Bintang. Distrik Okbibab merupakan distrik tertua di kabupaten di Kabupaten Pegunungan Bintang. Ibukota distrik okbibab yaitu Abmisibil. Pada tahun 2014 merupakan umur emas bagi Distrik Okbibab, karena Distrik Okbibab tepat berusia 50 tahun. Ibu Kota Distrik Okbibab adalah Abmisibil.
Batas wilayah Distrik Okbibab adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara         : Distrik Aboy
Sebelah Selatan      : Distrik Oksibil
Sebelah Barat         : Distrik Borme
Sebelah Timur         : Distrik Kiwirok
Distrik Okbibab terdiri dari 8 kampung yaitu sebagai berikut:


1.      Abmisibil
2.      Manunggal
3.      Atolbol
4.      Okbifisil
5.      Oktanglap
6.      Oksemar
7.      Iriding
8.      Abmifisil


 Sarana transportasi utama untuk menuju ke Distrik Okbibab hanya dengan kendaraan udara (pesawat). Jalan darat yang dapat dilalui hanya dengan jalan kaki, karena hanya jalan setapak saja yang tersedia. Di daerah Abmisibil beriklim tropis, dengan dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kedua musim tersebut sulit diprediksi karena hujan yang tidak menentu dan bisa datang setiap saat. Suhu berkisar antara 100 C sampai dengan 200 C. pada malam hari angin berhembus dari pegunungan kearah lembah, sehingga udara di malam hari terasa sangat dingin. Topografi distrik okbibab yaitu jajaran gunung yang menjulang tinggi berkisar 3700 mdpl. Udaranya sangat dingin terlebih bila mendekati bulan purnama.
Kondisi Distrik Okbibab jauh lebih baik dari pada Distrik yang lain, karena Distrik Okbibab merupakan Distrik tertua. Di Abmisibil penerangan listrik dari tenaga air sudah tersedia 24 jam, air bersih dan air dari sumber mata air sudah ada, dan telekomunikasi melalui telephon satelit serta SSB. perlu waspada ketika hujan turun dengan deras, hal ini menyebabkan perputaran kincir yang menggerakkan generator terganggu. yang terjadi biasanya listrik padam. kebutuhan vital di Abmisibil yang kurang hanya signal.

Minggu, 02 Agustus 2015

pemilik otak hibernasi

tubuh kokoh begitu rupa laksana pohon ribuan tahun cahaya
penampilan rupawan seperti arjuna digabung dengan rahwana
hitam kelam seperti gelapnya malam tanpa bintang
tabrak kanan kiri tak da beda
kaki-kaki mungil yang mampu menembus ribuan kilo hutan semak
bahu yang begitu kuat mengangkat berton-ton beban
rambut keriting seperti mi instan mentah siap saji
oh...inikah rupamu pemilik otak hibernasi

bukan gunung batu tapi tumpukan emas salju
bukan pula gelondongan kayu tapi batu bara kualitas satu
bukan pasir kuarsa tapi timbunan uranium yang begitu beda
bukan pula batu apung tapi tumpukan intan permata
itulah yang kau tinggali dan kau injak setiap hari
kau jelajahi dan kau polesi dengan sepenuh hati
wahai pemilik otak hibernasi

Senin, 11 Mei 2015

dalam renungan : antara Palestina dan Okbibab

di palestina mereka jihad dengan pedang
memporak porandakan kebatilan dengan panah suci
meluluhlantakkan keponggahan penguasa bejat
mencoba merangkai merdeka dengan balutan bom syahid
melalui tangan-tangan mungil meneriakkan intifadhah

disini aku mencoba bergerak dengan pena
menerjang keterpurukan dengan panah-panah ilmu
memberengus keterbelakangan dengan pengetahuan
menghancurkan kebodohan dengan sedikit perasaan
menelanjangi kegelapan yang telah membungkus dalam
dan kemudian mewarnai dengan sedikit kemoderan
menebar inspirasi disini
kaki-kaki telanjang dengan rambut keriting
borok dan ingus yang menempel disana sini
MENGHINGGAPI GENERASI PENERUS BANGSA
DI BUMI timur INDONESIA

Minggu, 10 Mei 2015

Selamat datang di Perbatasan timur Negeri : Kabupaten Pegunungan Bintang



Bottom of Form


Pembekalan SM3T di lanal AU Malang sudah berlangsung selama 12 hari. Dan hari ini adalah penentuan penempatan tugas. Semacam dag dig dug juga ketika disuruh ke lapangan dan mencari nama nama kita di antara pohon pohon.300 peserta langsung berhambur keluar ruangan karena penasaran dengan tempat tugas, termasuk saya. Banyak dari teman teman yang lari ke lapangan sebelah kanan, daripada berjejal saya memutuskan utuk berlari ke lapangan sebelah kiri. Dadaku berdebar, pikiranku tak karuan. Berharap dapat penempatan di daerah yang ndak terlalu berbahaya. Tak lama kemudian, oh my God....namaku tercantum diurutan ke 25 dengan penempatan Kabupaten Pegunungan Bintang. Provinsi Papua...Hello... ini daerah mana? Kugunakan segala cara untuk mengenal daerah yang akan menjadi tempat pengabdianku selama satu tahun. Dan inilah kabupaten di perbatasan timur Indonesia ini.
Kabupaten Pegunungan Bintang, adalah salah satu kabupaten yang
 terletak di jalur  Pegunungan tengah deretan Pegunungan Sirkum Pasifik Propinsi Papua. Terletak di selatan Pegunungan Mandala. Kabupaten dengan panorama alam mempesona yang masih asli, penuh dengan keindahan eksotik khas hutan belantara. Pegunungan yang menjulang tinggi dan hamparan hutan yang luas menghiasi alam di Pegunungan Bintang. 90% wilayahnya berupa gunung dan merupakan bagian dari deretan pegunungan Puncak Mandala. Kaya akan sumber daya, dengan keragaman kesenian tradisional dan memiliki legenda yang menarik.

Senin, 04 Mei 2015

Kisah tentang penggaris busur di pedalaman papua




Menjadi guru SMP di pedalaman dituntut untuk menjadi guru serba bisa. Ibarat guru super power yang bisa ngalahin komputer. Bukan sekedar mendidik siswa masuk dalam katagori “jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal, tapi tidak menguasai apapun). Tapi alasan sebenarnya, karena memang keterbatasan guru, buku dan fasilitas lain. Apapun ilmunya dan rasanya harus disampaikan ke siswa dengan segala kerendahan hati. Termasuk mempelajari ilmu yang menjadi momok banyak siswa, belajar matematika.
Hari ini aku masuk di kelas VIII. Kelas yang lumayan heboh. Satu kelas sekitar 20an anak dengan berbagai karakter unik. Bahkan saking uniknya ada murid q yang merupakan tetua adat di suku nya yang berasal dari kampung seberang. aku ingin mengajari mereka untuk mengenalkan sudut. Di jawa, pelajaran sudut pada matematika sudah di pelajari saat kelas 2 SD, tapi disini sekolah di jenjang SMP, sudut pun masih di pelajari. Keterbatasan membuat semua menjadi mungkin.

Kamis, 23 April 2015

Kaspia : Antara Danau dan Laut



Danau adalah sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi di suatu tempat yang cukup luas, yang dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air. Biasanya danau dapat dipakai sebagai sarana rekreasi, dan olahraga. Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air bisa tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh daratan. Kebanyakan danau adalah air tawar dan juga banyak berada di belahan bumi utara pada ketinggian yang lebih atas. Sebuah danau periglasial adalah danau yang di salah satunya terbentuk lapisan es, "ice cap" atau gletser, es ini menutupi aliran air keluar danau. Istilah danau juga digunakan untuk menggambarkan fenomena seperti Danau Eyre, di mana danau ini kering di banyak waktu dan hanya terisi pada saat musim hujan. Banyak danau adalah buatan dan sengaja dibangun untuk penyediaan tenaga listrik-hidro, rekreasi (berenang, selancar angin, dll), persediaan air, dll.
Laut adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Laut adalah kumpulan air asin yang sangat banyak dan luas di permukaan bumi yang memisahkan atau menghubungkan suatu benua dengan benua lainnya dan suatu pulau dengan pulau lainnya. Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.
Lalu bagaimana dengan Kaspia? Masuk danau ataukah laut?


Pertama kita harus mengetahui apa arti danau itu sendiri, danau adalah suatu kumpulan air dalam suatu basin atau cekungan.

Sinar krepuskular vs Sinar Antikrepuskular

Atmosfer kita terdiri dari sangat banyak komponen, sehingga jika berkolaborasi akan menghasilkan fenomena atmosfer yang unik dan indah juga menakjubkan. namun banyak orang yang tidak menyadari keindahan alam tersebut. sebut saja sinar Krepuskular dan sinar Anti Krespukular. 
Sinar krepuskular merupakan suatu fenomena alam ketika cahaya matahari terlihat beradiasi dari satu titik tertentu. Radiasi cahaya ini bisa terjadi karena cahaya Matahari masuk melewati celah-celah di antara awan atau objek lain dan biasanya terlihat menjelang Matahari terbit atau tenggelam. Fenomena ini juga dikenal dengan sebutan Sinar Matahari atau Sinar Tuhan.
 
Sinar krespukular biasanya berwarna merah dan kuning serta lebih mudah dilihat di saat pagi atau sore hari, karena pada siang hari partikel udara menyebarkan cahaya gelombang pendek (biru dan hijau) jauh lebih kuat daripada cahaya gelombang panjang (kuning dan merah)


Anticrepuscular Ray (Indonesia:Sinar Antikrepuskular) adalah berkas sinar yang mirip dengan Crepuscular, namun terlihat berada di tempat yang berlawanan dari matahari, terjadi ketika Crepuscular Ray yang muncul dari matahari terbit atau tenggelam terlihat mengalami Konvergensi ulang di Titik Antisolar. Titik Antisolar adalah titik langit yang berlawanan dengan arah matahari.


Atau secara sederhana, fenomena Anticrepuscular Rays terjadi karena sinar matahari terhalang oleh awan atau objek lainnya seperti crepuscular ray, namun ia terlihat di arah yang berlawanan dengan matahari.
Sungguh jika kita mau merenung sejenak, banyak bukti bukti kekuasaan Allah yang bisa kita gunakan untuk berdzikir.

Rabu, 22 April 2015

Cerita pedasnya Lombok di okbibab , Pegunungan bintang Papua




Cabe adalah sesuatu yang ndak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari hari, khusunya ketika makan. Kegemaran orang Indonesia makan cabai dipercaya berlangsung sejak dulu. Menurut sejarah, cabai menjadi komoditas penting di Indonesia sejak masa Jawa Kuno dan menjadi makin familiar dengan lidah orang Indonesia. Dari awal, menu sambal memang paling praktis, mudah dibuat, dan bisa disandingkan dengan makanan lain. Tidak hanya itu, banyak yang bilang kalau makan sambal terasi pakai nasi hangat dan lauk tempe rasa nikmatnya melebihi hidangan di restoran bintang 5. Lidah Indonesia juga sudah sangat familiar dengan sambal bawang, sambal dabu-dabu, sambal ijo, sambal matah, sambal tomat dan lainnya. Selera makan makin meningkat biarpun harus berkeringat deras. Bahkan beberapa makanan diberi label dengan tingkat kepedasan level 1 hingga level 10. Sekilas membayangkan kenangan indah bercengkrama dengan sambal.

Rabu, 05 November 2014

Perantauan

dalam perantauan yang jauh
aku melihat bumi berputar
degradasi moral membabi buta
menghiasi pojok keterbelakangan
menggelontorinya dengan dupa ke tidak tahuan
dan akhirnya menenggelamkan dalam kehampaan
apakah makna hidup itu?