karya ini saya ambil utuh dari saudara Teguh Budiharso, Universitas Mulawarman yang diterbitkan oleh harian Lingua, Volume 12, Nomor 1, Maret 2015, Halaman 139-156. terimakasih yang sebesar besarnya pada beliau karena telah memberikan sepercik cahaya dibalik kebenaran sejarah kota Trenggalek. bagi yang ingin mengutip jangan lupa mencantumkan sumbernya ya. .
MELURUSKAN SEJARAH
TRENGGALEK KOTA GAPLEK:
STUDI HEURISTIK FOKLOR PANEMBAHAN BATORO KATONG,
JOKO LENGKORO DAN
MENAK SOPAL [1]
Abstract: This study is
aimed at describing toponymy of Trenggalek emphasizing on identification of
local foklor about Batoro Katong, Joko Lengkoro and Menak Sopal. This study uses qualitative approach
assigning heuristic and phenomenology as the method of inquiry. Primary sources such as documents on the
foklor, babad, inscriptions, and sites of history were analyzed. Indepth analyses pertaining to the
exploration using indepth interview and discussion were conducted involving
various informants. This study reveals
that Trenggalek derived from Galek,
identifying a city that produced gaplek.
Since early Matarm, gaplek had been produced in Trenggalek. In support to the name, Galek has been
interpreted as the identity of “terang” and “galih” aspiring that Galek has
received greatness of the King in Demak.
Trenggalek did not exist in the era of Mataram, Majapahit, Demak, and
Pajang Kingdom as a regency, however, its status as sima parashima, received
since King Sindok in 929 AD up to Majapahit ruling indicated that Trenggalek
was a prominent area. To some extents,
Trenggalek has received discrimination in the government administration but the
history remains to promote the legacy of Trenggalek as an autonomy regency.
Key-words: Trenggalek, toponymy, King Sindok.
Tulisan ini
mengkaji seara kritis sejarah Trenggalek berdasarkan studi heuristik tiga
cerita tutur baik lisan, babad, maupun manuskrip mengenai Panembahan Batoro
Katong Ponorogo, cerita tutur Joko Lengkoro atau Mbah Kawak, dan cerita turur
Menak Sopal. Sejauh yang bisa
ditelusuri, sumber sejarah Trenggalek tertulis baru berupa cerita mengenai
Menak Sopal yang melegenda dan dianggap sebagai Bupati Trenggalek yang pertama,
pahlawan petani, dan penyebar Islam pertama di Trenggalek.
Secara umum, sejarah Trenggalek
banyak didasarkan pada cerita tutur yang berpangkal pada cerita Menak Sopal (1498-1568) yang hidup pada zaman Sultan Hadiwijoyo (1549-1582) bertahta di Pajang Kartasura
sekarang. Kisah ini diinterpretasi oleh
banyak pihak menggunakan berbagai versi dan melahirkan cerita sejarah yang
simpang siur. Pemerintah
Kabupaten Trenggalek sendiri juga “kurang peka”
pada situasi ini sehingga sampai saat ini Pemerintah Kabupaten Trenggalek lebih
berpatokan pada cerita dongeng sebagai rujukan sejarah Trenggalek. Interpretasi
yang muncul di blog baik situs resmi Pemkab Trenggalek maupun blog pribadi juga
tidak bisa dijadikan rujukan. Padepokan
Dewadaru misalnya dalam blognya menjelaskan kata Trenggalek sebagai lintang
trenggono yang hilang dan jatuh di wilayah Trenggalek. Trenggono dipersepsikan sebagai Sultan Demak
terakhir sebelum Demakruntuh dan dipindahkan ke Pajang oleh Joko Tingkir atau
Sultan Hadi Wijoyo, menantu Sultan Trenggono.
Satu-satunya
buku sumber yang memiliki bobot ilmiah cukup ialah Babon Sejarah Trenggalek
yang disusun pada 1982 oleh tim penyusun sejarah Trenggalek bersama-sama
konsultan sejarah dari IKIP Malang.
Babon Sejarah Trenggalek ini memuat keterangan yang akurat pada sisi
tertentu. Secara panjang lebar, penulis
sejarah Trenggalek, termasuk Pemkab
Trenggalek, blogger, dan penulis lain mendasarkan pada uraian
tersebut. Dengan bangga, mereka mengutip
deskripsi sejarah Trenggalek dikelompokkan ke dalam tiga periodisasi:
pra-sejarah, perdikan, dan keemasan.
Trenggalek
dibanggakan sebagai daerah yang cukup tua dalam sejarah tetapi para penulis
menjadi tidak kritis ketika Trenggalek disebut sebagai daerah “di bawah
naungan” wilayah lain. Penulis yang
dengan bangga menyebut Trenggalek sebagai bagian Tulungagung ialah yang
menyebut dirinya Siwi Sang. Penulis lain akhirnya cukup mengamini saja
bahwa sejarah Trenggalek “tidak
mandiri” tetapi menjadi bagian dari Tulungagung.
Tulisan ini dimulai dari fakta
sejarah tentang keberadaan Trenggalek, dan pelurusan beberapa pernyataan yang
bisa menjadi stikma. Diharapkan pemangku
kebijakan bisa menyusun alur sejarah Trenggalek yang baku agar cerita yang
disusun setelahnya oleh siapapun tidak simpang siur dan tidak membingungkan
generasi penerus.





