Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2015

Puisi : sampai ujung

aku akan terus melangkah
sampai sang maut menjemputku
aku akan terus melihat
sampai mata ini terpejam selamanya
aku akan terus bicara
sampai mulut ini diam dengan sendirinya
tanganku akan terus mengacung dan mengepal
sampai otot dan saraf ini berhenti, tak bergerak walau sejenak
ya..semua ini tentang sebuah pengabdian
sebuah rasa bernama keprihatinan
akan tangisan bunda pertiwi yang menyayat hati
menyaksikan putra putri bangsanya terkukung ketertinggalan
penerus negeri tersungkur dalam emosi sesaat
terbakar angan dan mimipi ilusi yang menipu
dan akhirnya membawa nusantara dalam lumpur kegelapan

Jumat, 20 November 2015

Puisi : Rasa yang tak terdefinisi

sebuah rasa yang  tidak terdefinisi
terkadang membuatmu buta arah
tak jelas mana utara selatan, mana timur dan barat
mengaburkan peta kehidupan yang telah digambarkan
menghapus petunjuk yang datang secara perlahan
dan akhirnya memusnahkan sebuah solusi jalan keluar
rasa itu..........

satu rasa yang tak bisa didefinisikan
kadang membuatmu begitu gembira
seakan kau adalah raja segala dunia
membuatmu memiliki wewenang untuk menjadi raja segala masa
memuncratkan sumber mata air ceria seberti mendapat boneka pertama
membuncah senang didada bak temukan sebongkah permata
mengubah boneng serasa coklat, topinong rasa daging renyah empuk
hitam jadi putih, hina jadi mulia.............
ah rasa itu

sepotong rasa yang tak bisa didefinisikan secara tepat
terkadang membuatmu sedih bersarang didada
ibarat kau adalah satu-satunya penghuni neraka
tersiksa dengan segala potongan hari
memberengus asa di depan wajah, yang ada hanya air mata
membungkus jasad dengan rasa dingin, hampar mencekam
    seakan tak ada lagi udara yang tersisa di bumi
ah........rasa itu

Sabtu, 29 Agustus 2015

lilin harapan

Aku sedang menyalakan lilin harapan
meski batang yang tersulut hanya seujung kuku T
ku kan terus mencoba

perlahan namun pasti,
semoga tumbuh dan berkembang 
membwa sedikit cahaya untuk songsong harapan
biar ia menghapus ketertinggaalan dan keterpurukan

aku sedang menyalakan lilin harapan
untuk mereka yang merasa terjajah kebodohan
terpuruk akan kegalauan pengetahuan
terpasung dengan adat jahiliayah yang menyiksa
serta hawa malas yang menggerogoti tulang
menghisap mimpi dan asa sampai sumsum tulang belakang
menimbun butir-butir mimpi yang masih tersembunyi dalam otak

rindu sahabat


terkadang aku hampir gila rasanya
menjadi tong rasa dan masalah yang begitu dahsyat
tanpa kran pembuang yang steril disisi
yang harus melalui selang antar pulau
itupun tak tau sampaikah tidak
sungguh tanpa teman curahan hati itu membosankan
harus melangkah kaki tanpa pundak penompang lain
tertatih-tatih menopang hari
bertele-tele mengurai cerita
satu demi satu tak tau sampai ujung kah tidak
yang ada hanyalah krupuk kebosanan
mengurai benang demi benang kehidupan yang kusut
tanpa gunting solusi atau sekedar lakban pengambung asa

Minggu, 02 Agustus 2015

pemilik otak hibernasi

tubuh kokoh begitu rupa laksana pohon ribuan tahun cahaya
penampilan rupawan seperti arjuna digabung dengan rahwana
hitam kelam seperti gelapnya malam tanpa bintang
tabrak kanan kiri tak da beda
kaki-kaki mungil yang mampu menembus ribuan kilo hutan semak
bahu yang begitu kuat mengangkat berton-ton beban
rambut keriting seperti mi instan mentah siap saji
oh...inikah rupamu pemilik otak hibernasi

bukan gunung batu tapi tumpukan emas salju
bukan pula gelondongan kayu tapi batu bara kualitas satu
bukan pasir kuarsa tapi timbunan uranium yang begitu beda
bukan pula batu apung tapi tumpukan intan permata
itulah yang kau tinggali dan kau injak setiap hari
kau jelajahi dan kau polesi dengan sepenuh hati
wahai pemilik otak hibernasi

Minggu, 10 Mei 2015

malam hari raya idul adha di okbibab



jika hari raya idul adha datang,
dalam anganmu pasti terbayang
takbir berkumandang dimana-mana
dari merculuar surau dan masjid yang tinggi
membelah langit malam
bersanding ditahta mega bersama bulan dan bintang

dalam bayangmu....
kambing, domba sapi serta unta gemuk berjajar
siap dikorbankan sebagai pengganti Ismail menghadapi perintah Rabbi
berjalan penuh ikhlas menuju belati
siaga menghadapi israil yang senantiasa menanti
dan kemudian daging-daging suci siap dibagi
ah sungguh indahnya menggoda

di atas gunung mati


suhu dingin begitu mencekam urat nadi
berselimut awan dan kabut yang tiada beda
berdinding ngarai menjulang tinggi tertutup salju putih
dihiasi pohon perdu dan lumut satu-satu
semua diatas gunung tak bernyawa

tak ada suara burung berkicau, apa lagi jangkrik mengerik
tak ada nyamuk berkeliaran menghisap darah
pun jua kuskus dan ayam hutan berkeliaran menunggu mangsa
pohon pun hidup segan mati tak mau
berkompetisi dengan lumut kerak yang enggan dan malu-malu
bersama rumput perdu yang berbaris lugu
bahkan suanggi alias hantu papua pun enggan bergentayangan
disini, digunung mati

hanya manusia bernyali yang bertahan
menyemai harapan akan masa depan gemilang tak tentu
mencoba menyinari pegunungan bintang yang masih gelap
dengan cahaya ilmu penopang peradaban
senyum serta semangat anak2 pedalaman yang menjadi carger perubahan

disini diatas gunung mati
ujung tombak perbatasan INA-PNG
aku mengukir janji untuk bunda  pertiwi
akan q bangkitkan sebuah inspirasi dengan akselerasi
dari murninya ilmu hati yang membawa harapan
karena aku peduli

malam yang dingin 21.34 WIT
271013

pesona abmisibil : mutiara di ujung negeri



ada yang istimewa di timur perbatasan Indonesia
bukan kemunduran zaman ataukah modernisasi lokal
bukan pula bencana semacam lapindo ataukah tsunami
apalagi pesona degradasi moral semacam kompleks doli

adalah keindahan alam yang masih perawan
kemolekan tubuh bumi yang begitu dahsyat
seluk beluk pegunungan merona pipi
lembah bukit dan gunung bersatu mempesona
awan kabut bergaabung tiada beda
barisan alur daun bonengnong serta keladi silih berganti
serta bulir-bulir cemara yang bersembul malu-malu
dan perdu semak menghiasi riasan ibu pertiwi
dibelah kelokan jalan batu naik turun dan sungai jernih
seperti pemetang sawah dikepalamu.
amboi....sungguh indahnya

gunung Aplimapom



ada kesabaran dan keteguhan menakjubkan dalam diamnya
tatapan tajam menunjukkan kekokohan dan ketergaran jiwa
desiran daun dari pohon dikulitnya menunjukkan kehalusan batin
selimut putih kabut dan salju mencitrakan akan kerelaannya
dan keikhlasan sungguh kentara dari kaki sampai puncak
wahai engkau Amplimapon di tanah Papua

Rabu, 05 November 2014

Perantauan

dalam perantauan yang jauh
aku melihat bumi berputar
degradasi moral membabi buta
menghiasi pojok keterbelakangan
menggelontorinya dengan dupa ke tidak tahuan
dan akhirnya menenggelamkan dalam kehampaan
apakah makna hidup itu?