Senin, 04 Mei 2015

Kisah tentang penggaris busur di pedalaman papua




Menjadi guru SMP di pedalaman dituntut untuk menjadi guru serba bisa. Ibarat guru super power yang bisa ngalahin komputer. Bukan sekedar mendidik siswa masuk dalam katagori “jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal, tapi tidak menguasai apapun). Tapi alasan sebenarnya, karena memang keterbatasan guru, buku dan fasilitas lain. Apapun ilmunya dan rasanya harus disampaikan ke siswa dengan segala kerendahan hati. Termasuk mempelajari ilmu yang menjadi momok banyak siswa, belajar matematika.
Hari ini aku masuk di kelas VIII. Kelas yang lumayan heboh. Satu kelas sekitar 20an anak dengan berbagai karakter unik. Bahkan saking uniknya ada murid q yang merupakan tetua adat di suku nya yang berasal dari kampung seberang. aku ingin mengajari mereka untuk mengenalkan sudut. Di jawa, pelajaran sudut pada matematika sudah di pelajari saat kelas 2 SD, tapi disini sekolah di jenjang SMP, sudut pun masih di pelajari. Keterbatasan membuat semua menjadi mungkin.

Untuk memudahkan pemahaman, sudut saya analogikan sesuatu yang ada di pojok ruang kelas. sesuatu ruang di pojok kamar dan semacamnya. Cukup lama mereka baru paham. Kukenalkan mereka pada garis yang membentuk sudut. Ku suruh mereka membuat garis dan jenis jenis sudut di di buku masing masing. Hasilnya sungguh so sweet, ada garis yang lumayan bagus, ada garis naik turun, ada garis bengkok kanan kiri macam ular. Berbagai variasi jenis sudut yang awalnya hanya 3 di papan tulis ( sudut lancip, sudut siku dan sudut tumpul). Kulanjutkan pelajaran tentang besar sudut. Contoh sederhana kusuruh mereka untuk melihat jam dinding di depan kelas. Mereka kusuruh mengamati pertemuan 2 jarum jam yang membentuk sudut. ternyata banyak yang belum bisa sudut pada jam. Aku penasaran dan bertanya, dari sekian anak siapa yang dirumahnya ada jam dinding? Dengan bangga ku edarkan pandangan ke seluruh kelas, Oh my God....hanya dua anak yang mengacungkan tangan. Ok fine, pantesan mereka ndak paham.
Baiklah berarti harus ada alat untuk memudahkan penghitungan sudut. Pas waktu itu aku

tidak bawa penggaris busur. Kutanya mereka, apakah kalian tau busur. Sekelas mereka menjawab dengan kompak. “TAUUUUU BUUU”. Tanpa babibu lagi aku menyuruh siswa yang punya untuk keluar kelas mencari busur. Beberapa siswa keluar kelas. Pelajaran dilanjutkan dengan yang lain. Menggambar sudut bangun ruang dan semacamnya.
Hatiku semacam sedikit ndak enak. Ini siswa pada kemana yang ambil busur kok belum nongol. Bukannya di kios pak mul ada. Kalo jalan kaki, 20 menit paling nyampek. Ditunggu-tunggu kok ndak kembali-kembali. Pada singgah kemana? Jangan jangan pada kabur? Atau mereka dikejar orang gila. Pikiran aneh mulai menari nari di otak. Ya aku terus berdoa, semoga tidak terjadi apa apa. Semacam berabe klo ada masalah dan aku harus memperanggungjawabkannya di depan suku. Secara mereka kan hilangnya pas jam sekolah. Kulangkahkan kakiku ke luar kelas untuk menghirup udara segar. Masuk lagi mengecek siswa. Keluar lagi, masuk lagi.. rasa khawatir benar benar menghantui ku...”kemana mereka pergi? Apakah mereka baik baik saja?”
Kuputuskan untuk masuk kelas dan duduk sambil memandangi siswaku yang lain. Mereka tetap riang sambil berceloteh ndak jelas. Pintu ruang kelas diketuk, kubuka pintu dengan tergesa gesa. dan kulihat berleleran di wajah siswaku. What happen guys???. Murid q dengan terbata bata bilang. “Ibu maaf e, kita tadi pergi di balik gunung, busur di sa pu rumah dibawa bapak ke hutan “. Aku ndak konsen dengan jawaban siswaku. Karena pikiranku dipenuhi dengan yang lain, alhamdulillah kalian selamat. “Oke silahkan duduk”. Beberapa saat kemudian, aku melihat siswa yang baru datang dan bertanya kepada siswa satunya. “tadi temanmu bilang apa?”. Siswa ku menjawab, kalau busurnya di bawa ke hutan sama bapaknya. Dalam benak, aku membatin, wah buat apa busur di bawa ke hutan?ah sudahlah... Setelah sekian lama siswaku yang lain masuk dengan membawa anak panah dan busur panah di tangan. Dengan wajah polos siswaku bilang “Ibu ini busur yang ibu minta, mau memanah apa bu”
Aku menepuk jidat...Ternyata oh ternyata, jadi selama ini mereka belum tau penggaris busur yang ku maksud. Jadi selama ini kalo aku ngomong busur, yang mereka pahami adalah busur anak panah....ckckckck....hays.......  ( cerita dari seorang sahabat)

Abmisibil, 2 bulan setelah tiba di tanah cendrawasih
Pertengahan Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar