Minggu, 10 Mei 2015

Selamat datang di Perbatasan timur Negeri : Kabupaten Pegunungan Bintang



Bottom of Form


Pembekalan SM3T di lanal AU Malang sudah berlangsung selama 12 hari. Dan hari ini adalah penentuan penempatan tugas. Semacam dag dig dug juga ketika disuruh ke lapangan dan mencari nama nama kita di antara pohon pohon.300 peserta langsung berhambur keluar ruangan karena penasaran dengan tempat tugas, termasuk saya. Banyak dari teman teman yang lari ke lapangan sebelah kanan, daripada berjejal saya memutuskan utuk berlari ke lapangan sebelah kiri. Dadaku berdebar, pikiranku tak karuan. Berharap dapat penempatan di daerah yang ndak terlalu berbahaya. Tak lama kemudian, oh my God....namaku tercantum diurutan ke 25 dengan penempatan Kabupaten Pegunungan Bintang. Provinsi Papua...Hello... ini daerah mana? Kugunakan segala cara untuk mengenal daerah yang akan menjadi tempat pengabdianku selama satu tahun. Dan inilah kabupaten di perbatasan timur Indonesia ini.
Kabupaten Pegunungan Bintang, adalah salah satu kabupaten yang
 terletak di jalur  Pegunungan tengah deretan Pegunungan Sirkum Pasifik Propinsi Papua. Terletak di selatan Pegunungan Mandala. Kabupaten dengan panorama alam mempesona yang masih asli, penuh dengan keindahan eksotik khas hutan belantara. Pegunungan yang menjulang tinggi dan hamparan hutan yang luas menghiasi alam di Pegunungan Bintang. 90% wilayahnya berupa gunung dan merupakan bagian dari deretan pegunungan Puncak Mandala. Kaya akan sumber daya, dengan keragaman kesenian tradisional dan memiliki legenda yang menarik.

Kabupaten Pegunungan Bintang adalah salah satu Kabupaten dan langsung berbatasan dengan Negara Papua Nugini. Secara geografis Kabupatn Pegunungan Bintang terletak diantara 140005 - 1410 BT dan 3004-5020 LS dengan luas wilayah 15.683 km2. Kabupaten Pegunungan Bintang terdapat 34 Distrik (Kecamatan) dan 277 Desa/Kampung. Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan salah satu hasil  pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya yang resmi memecahkan diri sejak tahun 2010. Ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang bernama Oksibil.Sebelah utaranya berbatasan dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Yahukimo, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Boven Digul. Topografi daerahnya sebagian besar berupa pegunungan.
Kabupaten ini beribukota di Oksibil yang terletak di ketinggian 1400 mdpl, jadi dingiiin sekali. Tidak jarang kalo pagi dan sore hari, Oksibil diselimuti kabut, jadi mirip lagunya artis Katon Bagaskara “Negeri di Awan”. Jika kita jalan-jalan ke Oksibil, kita akan banyak menemukan ceruk/cekungan-cekungan dengan dasarnya berisi air, jadi seperti waduk penampung air hujan alami. Konon katanya nama pegunungan bintang diambil karena banyaknya ceruk di sana. Pasti kalian bertanya-tanya, “apa hubungannya?”. Akibat efek dari pantulan sinar matahari, ceruk-ceruk berisi air ini jika dilihat dari atas pesawat terlihat berkilauan seperti bintang. Karena letaknya di pegunungan dan banyak terdapat kilauan bintang itulah makanya disebut pegunungan bintang.
Untuk mencapai Oksibil tidak ada jalan lain selain dengan pesawat, atau kalau mau jalan kaki juga silakan. Paling cuma 1 sampai 2 bulan perjalanan, dengan naik turun gunung, menyeberangi sungai, dan resiko dipatuk ular. Itupun jika tau jalan. Jangan berharap bisa google map, karena signal ndak ada sama sekali. Jangan lupa bawa alat perlindungan diri, karena kita ndak tau bahaya apa yang mengintai di depan. Yang pasti di hutan belantara masih banyak suku suku terasing yang belum terekspos oleh dunia luar. Bagi yang pernah nonton film “lost in Papua”, mungkin ada gambaran. Tapi ndak semenyeramkan itu kok. Walau film itu ndak 100 % salah.Satu yang pasti kalo kalian nonton on the spot besutan salah satu TV swasta di Indonesia ada episode yang berjudul suku kanibalisme di dunia, dan Pegunungan Bintang pernah masuk di dalamnya... Hehehe. Itu dulu.....
Balik lagi ke pesawat, dari Jayapura ke Oksibil kita bisa naik pesawat jenis ATR berkapasitas penumpang tigapuluhan milik Trigana Air, atau dengan pesawat kecil jenis pilatus berkapasitas 7 penumpang, atau bisa juga dengan pesawat jenis caravan berkapasitas 13 orang. Pesawat-pesawat kecil jenis caravan dan pilatus ini biasanya dioperasikan oleh Maskapai Susi Air dan maskapai-maskapai yayasan keagamaan, seperti AMA dan MAF. Jika naik pesawat model macam ini, jangan pernah kaget kalo kalian naik dengan makhluk hidup selain manusia. Lha kok?walo pesawat komersil, masih banyak nyamuk yang ikut terbang dalam pesawat. Ndak salah kalo kemudian Papua sebagai salah satu daerah endemik penyebaran penyakit malaria. Selain nyamuk, hewan yang mungkin kalian jumpai adalah ayam, babi, anjing dan lainnya..ada ada saja yaa..
 Rombongan SM3T dibagi menjadi 2 kloter karena keterbatasan jumlah pesawat. Kebetulan sekali saya kebagian kloter pertama. Alamat bakal menikmati pemandangan tempat baru lebih lama. Perjalanan dari Jayapura menuju Oksibil menempuh waktu kurang lebih satu jam. Bagi yang pertama kali naik pesawat, siap siap senam jantung karena bakal sering nabrak awan. Maklum Oksibil termasuk ibukota kabupaten yang terletak di ketinggian diatas 2000mdpl. Ketika menengok ke bawah jangan berharap melihat bangunan tinggi atau apalah. Yang nampak hanyalah hutan belantara yang masih perawan. Ngomongin pembangunan..Mungkin karena akses ke sana yang hanya bisa ditempuh dengan pesawat menjadi alasan lamanya pembangunan daerah, seperti halnya kabupaten-kabupaten lain di Papua bagian tengah. Tapi kalau dipikir-pikir dana dari pusat yang turun ke kabupaten ini juga fantastis, lalu kenapa masih tertinggal ya?? jadi apa yang salah??Dah ah, malah ngelantur kemana-mana, biar jadi PR bapak dan ibu pejabat di Jakarta.
Sebelum di sebar ke distrik tempat penugasan, kita dikasih kesempatan untuk mengenal ibukota kabupaten selama semingguan. Jika saya mendeskripsikan seperti apa Oksibil, maka saya akan bilang seperti sebuah desa sedikit terpencil kalau di Jawa. Tidak banyak mobil berlalu-lalang, tidak ada lampu lalu-lintas, tidak ada mall, sepi deh pokoknya. Di sana cuma ada dua penginapan, dengan tarif sekitar 350 ribu rupiah per malam. Amazing banget. Untungnya kita merupakan tamu kehormatan, jadi untuk urusan biaya sudah ditanggung sama pemkab, senangnya. Kita diberikan tempat menginap di dekat bandara. Namanya susteran. Hari pertama kita dibebaskan untuk jalan jalan dan keliling kota. Bingung juga mau kemana. Perlu penyesuaian mata, karena yang dilihat kebanyakan mama mama berambut keriting dengan pinang dimulut, belum lagi anak anak, remaja dan bahkan ada orang tua yang ingusan. Ah sudahlah. Mungkin karena suhu yang dingin buanget, makanya banyak yang pilek. Itulah kesimpulan sementara yang ku dapat. Untuk air, Oksibil sedikit kering. Air di susteran di ambil dari sungai di samping bandara. Jangan harap ada shower air panas ya, siap-siap aja menggigil, ato kalo gak mau mandi juga gak apa-apa, gak kringetan juga kok. Kalo mau makan, di sana tidak banyak pilihan, kalo gak salah cuma ada tiga warung yang lumayan besar untuk ukuran di sana. Dan yang pasti harga makanan di sana sangat mahal, satu porsi soto lamangan harganya antara Rp 85.000,- sampai Rp 120.000,- per september 2013. Amazing banget to.. :)
 Bagi yang punya hobbi travelling dan berniat kesana, saya sarankan buat berfikir dahulu. Kenapa? destinasi wisata atau tidak, itu tergantung cara pandang kita. Yang pasti di Pegunungan Bintang banyak gunung, hutan dan sungai. Kalo menjelajah hutan dianggap sebagai kegiatan wisata ya silakan, tapi kalo dianggap sebagai kegiatan adventure ya silakan juga. Yang pasti tidak ada obyek wisata yang dikelola khusus oleh pemerintah maupun dijadikan tujuan wisata para pelancong. Sempat melakukan dialog dengan Bupati disana bapak Drs. Wellintong L. Wenda yang menyambut kita dengan air mata. Intinya beliau sangat welcome dengan kedatangan kita. Beliau bercerita bahwaKabupaten ini masih baru, butuh pembangunan di segala bidang. Dan pendidikan adalah tiangnya. Sungguh sambutan dari pak Bupati yang menyayat hati. Dalam hati aku bertekad, semoga setahun keberadaanku disini bisa melakukan perubahan yang lebih baik untuk kabupaten Pegunungan Bintang. Itu janjiku.
Di kabupaten ini ada 34 distrik, Koordinator SM3T pak Lay Gaza mengatakan teman teman dari program SM3T akan ditempatkan di 6 distrik terbaik. Yaitu distrik Okbab, distrik Okbibab, distrik Iwur, distrik Okaom, distrik Kiwirok dan distrik Borme. Di kesempatan yang sama aku dapat kabar bahwa tempat tugasku selama setahun ke depan adalah di distrik Okbibab bersama 6 teman lain. Farid Dinar K dari jurusan BK, Oscardin Nicolaus N dari jurusan Olahraga, Andriawan Rahmad H dari Sejarah, Khurin’in dan Lukhi RDS dari PGSD, Nefi R dari HKn dan saya sendiri dari jurusan Geografi. Aku mendapat tugas untuk mengajar di SMAN Okbibab bersama pak Farid.
Distrik Okbibab? Mana lagi itu? Di kesempatan lain aku akan menceritakannya.Itulah sedikit gambaran tentang Kabupaten Pegunungan Bintang, salah satu kabupaten di daerah pegunungan tengah papua yang ekstrim dan masih tertinggal. Semoga dengan sedikit gambaran ini dapat memberikan pengetahuan bagi kita semua, khususnya pemerintah yang memiliki wewenang kebijakan bahwa masih ada kabupaten di Indonesia yang memerlukan perhatian lebih untuk kemajuan negeri ini. Ingat Pegunungan Bintang adalah kabupaten terdepan bagian timur yang berbatasan langsung dengan negara lain. Kabupaten yang menjadi pagar betis pertahanan pertama negeri ini

dengan penuh cinta, agustus 2013
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar