Senin, 14 Desember 2015

PTK : GI Kritis SMA



PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA MATERI LITHOSFER MATA PELAJARAN GEOGRAFI SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 1 MALANG

Nikmatul Istikhomah* Budi Handoyo *

Jurusan Geografi Universitas Negeri Malang
Jalan Semarang 5, Malang 65145
Email: nikmatul.istikhomah@gmail,com

 Abstrak: Permasalahan yang terjadi di kelas X IPS SMA N 1 Malang adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa, terlihat selama pembelajaran hanya beberapa siswa yang aktif bertanya dengan kualitas pertanyaan berpikir kritis dan jawaban siswa pun masih berdasarkan buku, belum mampu menganalisis. Adapun tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan peningkatan kemampuan siswa berpikir kritis. Penelitian ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Model yang digunakan pada penelitian ini adalah Group Investigasi. Langkah model terdiri dari mengidentifikasi topik dan pengelompokan, merencanakan penyelidikan, melaksanakan penyelidikan, menyiapkan laporan akhir, menyajikan laporan dan evaluasi. Obyek penelitian ini adalah siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Malang. Kegiatan pembelajaran terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan,observasi, dan refleksi. Kemampuan berpikir kritis siswa sebelum tindakan sebesar 70,33 , pada tindakan siklus I kemampuan berpikir kritis siswa meningkat menjadi 75,83. sedangkan pada tindakan siklus II kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan menjadi 85,50.

Kata-kata Kunci: Grup investigasi, berpikir kritis

Kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif, sistematis, dan logis sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai perubahan dalam perkembangan zaman. Beberapa kemampuan tersebut termasuk dalam kompetensi masa depan yang harus dimiliki oleh siswa. Sumarmi (2013:3) menjelaskan bahwa salah satu kompetensi masa depan yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan berpikir kritis.
Kemampuan berpikir kritis perlu dilatih agar siswa lebih terbiasa untuk melakukannya. Selaras dengan pendapat (Dewi, 2011:1) bahwa siswa perlu dibiasakan untuk berpikir kritis agar mereka memperoleh banyak manfaat. Pihak pemerintah sebenarnya juga sudah menuntut guru untuk melatih siswanya untuk berpikir kritis. Pernyataan ini sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomer 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi kelulusan bahwa setiap siswa diharapkan dapat menunjukkan kemampuannya untuk berpikir kritis dan logis.
Kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dan telah tercantum dalam standar kelulusan dapat dilatih melalui mata pelajaran Geografi. Sumaatmadja (2001: 20) menyatakan bahwa pembelajaran geografi dapat mengembangkan kemampuan intelektual tiap orang atau secara khusus para siswa yang mempelajarinya. Dengan demikian, Geografi memiliki peran untuk melatih siswa dalam berpikir dan mengembangkan keterampilannya.
 Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk memiliki high order thinking pada pembelajaran yang dilaksanakan. Sebagaimana pada KD Menganalisis Hubungan Manusia dengan lingkungan sebagai akibat dari dinamika litosfer yang menuntut siswa untuk mencapai kompetensi pada ranah menganalisis. Analisis yang dimaksud adalah permasalahan terjadinya erosi tanah dan permasalahan kerusakan tanah Adapun pada KD 3.3 Menganalisis dampak sosial letusan gunung api di Indonesia siswa juga dituntut untuk bisa menganalisis. Akan tetapi, pada kenyataannya belum optimal pelaksanannya.
Demikian pula yang terjadi di SMAN 1 Malang, berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada tanggal 05 dan 07 September 2015 dikelas X IPS  belum menunjukkan adanya pembelajaran yang dapat melatih siswa berpikir secara kritis. Pembelajaran Geografi yang berlangsung selama ini menggunakan metode ceramah, pemberian tugas dan kerja kelompok. Metode yang digunakan kurang melatih siswa berfikir kritis dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari kegiatan pembelajaran yang ada di kelas didominasi guru sehingga siswa hanya menerima materi yang diberikan oleh guru, jarang secara mandiri berupaya memperoleh pengetahuan, sehingga dampaknya interaksi antara siswa dengan siswa belum optimal.
Berdasarkan pengamatan dan wawancara tidak tersruktur dengan guru mata pelajaran ditunjukkan dengan 15 siswa dari 26 siswa yang berpartisipasi dalam proses pembelajaran sedangkan siswa yang lain hanya diam, berbicara sendiri dengan teman sebangku dan cenderung pasif, sehingga mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Berdasarkan nilai hasil belajar, rata-rata masih rendah dengan rata-rata kelas yang dicapai hanya 63,59 dari Standar Ketuntasan Minimal 78.
Sebenarnya guru sudah berusaha mendorong siswa terlibat dalam proses pembelajaran, yaitu dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya yang berkaitan dengan materi yang sedang disajikan, bahkan guru sudah mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat permasalahan untuk dijawab oleh siswa, tetapi hanya beberapa siswa saja yang ikut berpatisipasi mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru, sedangkan siswa yang lain hanya diam saja. Kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran tersebut membuat siswa tidak terbiasa berfikir kritis sehingga menyebabkan kemampuan berfikir kritis siswa menjadi lemah.
Pemilihan model pembelajaran yang akan digunakan pada setiap proses belajar mengajar perlu disesuaikan dengan materi dan kondisi siswa. Pemilihan model juga disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Hal yang lebih penting adalah disesuaikan dengan kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran.

Diskusi kelompok yang terjadi di dalam model pembelajaran Group Investigation akan mendorong siswa untuk belajar mandiri dan berusaha untuk menyampaikan pendapatnya. Hal ini juga akan dapat melatih mereka untuk menghargai pendapat dari siswa lain. Manfaat lain yang dapat diperoleh dari penerapan model pembelajaran Group Investigation adalah melatih tanggung jawab setiap siswa untuk memberikan kontribusi dalam penyelesaian tugas kelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat  Sumarmi (2012: 127) yang menjelaskan bahwa setiap anggota kelompok wajib menyelesaikan tugas masing-masing sesuai dengan persetujuan kelompok. Dengan demikian, akan lebih baik jika setiap anggota kelompok mendapatkan soal yang berbeda, sehingga masing-masing anggota memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas.
Belajar di dalam kelompok akan melatih siswa untuk bekerjasama dan bertukar pikiran, sehingga mampu meningkatkan prestasi mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Sharan (dalam Sumarmi, 2012: 127) yang menjelaskan bahwa ”penerapan model pembelajaran Group Investigation mampu meningkatkan prestasi belajar siswa”. Untuk mampu bertukar pikiran, maka siswa diharapkan berusaha mencari hal-hal baru secara mandiri salah satunya dengan cara membaca buku.
Dari beberapa pendapat yang telah dijelaskan, model pembelajaran Group Investigation dapat mendorong siswa untuk aktif dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan masalah yang saat itu dibahas. Dengan menerapkan model pembelajaran ini siswa juga akan dapat mengembangkan kemampuannya dalam  memecahkan suatu masalah. Guru perlu memberikan latihan dan membiasakan siswa untuk berpikir kritis, sehingga siswa dapat terbiasa untuk berpikir kritis dan manfaat-manfaat yang diharapkan dapat terwujud (Dewi, 2011: 2).Geografi yang pernah disampaikan dengan menggunakan model pembelajaran Group Investigation yaitu materi Sumber Daya Alam. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dijelaskan bahwa penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) berpengaruh terhadap hasil belajar Geografi siswa kelas XI khususnya pada materi Sumber Daya Alam (Almarumi, 2011).
Kesimpulan dari penelitian terdahulu tentang model pembelajaran Group Investigation adalah model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar, kemampuan berpikir, pemahaman, dan prestasi belajar siswa. Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berfikir kritis pada siswa kelas X IPS SMAN 1 Malang.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas meliputi empat tahapan yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan tindakan, dan refleksi. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah hasil tes kemampuan berpikir kritis setelah tindakan. Sumber data pada penelitian ini siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Malang tahun ajaran 2015/2016.
Instrumen dalam penelitian ini adalah pedomen obsevasi dan soal tes kemampuan berpikir kritis. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan tindakan dan kemampuan berpikir kritis siswa selama kegiatan pembelajaran. Soal tes bertujuan untuk mengukur peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa setelah dilakukan penerapan model Grup Investigasi. Tes dalam penelitian ini meliputi tes akhir siklus I, dan tes akhir siklus II, sementara untuk pra tindakan diperoleh melalui pre test sebelumnya yang memuat kemampuan berpikir kritis siswa.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pemberian tes. Tes dilakukan sebanyak dua kali yang meliputi tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II. Analisis data dilakukan dengan membandingkan persentase kemampuan berpikir kritis yang diperoleh pada pra tindakan, siklus I dan siklus II. Adapun tahap-tahap penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 1

Gambar 1 : spiral Penelitian Tindakan Kelas
( Adopsi dari Hopkins,1993 dalam Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999: )

Data yang diperoleh selama penelitian dianalisis secara deskriptif . Data diolah dan diklasifikasi, agar mudah dipahami. Analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data. Data kemampuan berpikir kritis siswa ditentukan sesuai dengan pedoman penilaian kemampuan berpikir kritis sesuai Tabel 1.
Tabel 1 : pedoman penilaian kemampuan berpikir kritis
No
Kemampuan Berpikir Kritis
Indikator
1.
Merumuskan masalah
Merumuskan permasalahan dan memberi arah untuk memperoleh jawaban
2.
Memberikan argumen
Memberikan argumen disertai saran
3.
Melakukan deduksi
Memberikan penjelasan dimulai dari hal umum ke khusus
4.
Melakukan Induksi
Membuat simpulan terkait masalah
5.
Melakukan evaluasi
Melakukan evaluasi berdasarkan fakta
6.
Memutuskan dan melaksanakan
Menentukan solusi alternatif dari masalah untuk dapat direncanakan dan dilaksanakan







Sumber: Modifikasi dari Ennis (dalam Agustina, 2012:20)

Persentase ketercapaian kemampuan berpikir kritis menggunakan rumus sebagai berikut:
Persentase skor tiap siswa = jumlah skor tiap siswa x 100%;
jumlah skor ideal
Persentase skor rata-rata siswa = jumlah skor seluruh siswa x 100%
                                                      jumlah skor ideal siswa
 yang mengacu pada kriteria pengambilan keputusan diadaptasi menurut Arikunto (2000), seperti Tabel berikut
tabel 2 : kriteria presentase kemampuan berpikir kritis
Nilai
Klasifikasi
Kualifikasi
86 – 100
7885
6077
5059
<50
A
B
C
D
E
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang
Sumber: Diolah dari Arikunto (2000)
Peningkatan kemampuan berpikir kritis dapat diketahui dari persentase kemampuan berpikir kritis dari tiap-tiap indikator yang mengalami kenaikan pada setiap tindakan. Persentase sebelum tindakan atau pra tindakan dibandingkan dengan siklus I, dan juga siklus II, sampai ke siklus berikutnya. Peningkatan kemampuan berpikir kritis disajikan dalam tabel dan grafik yang diperoleh dari data kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I dan II.

HASIL PENELITIAN
1. Deskripsi Data
Sebelum penelitian dilakukan, terlebih dahulu peneliti menganalisis hasil ulangan harian siswa selama pembelajaran. Berdasarkan hasil ulangan harian diperoleh bahwa kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaaan dengan ranah berpikir tingkat tinggi masih belum optimal. Soal pre tes sebelum pembelajaran dibuat untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai siswa masih belum optimal, terutama dalam hal kemampuan memberikan argumen. Siswa belum bisa memberikan alasan dan sumber yang dapat dipercaya. Selain itu, selama peneliti mengajar, pada saat kegiatan diskusi dalam pembelajaran sebagian besar siswa belum bisa mengeluarkan argumen-argumen dan ide-ide dengan baik terhadap kasus vulkanisme dan dampaknya untuk kehidupan. Adapun, selama pembelajaran berlangsung, siswa masih berorientasi pada penguasaan materi, belum bisa menganalisis permasalahan secara riil berkaitan dengan materi pembelajaran, sehingga pembelajaran kurang bermakana yang berdampak pada rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Adapun hasil analisis berdasarkan nilai pre test yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis siswa seperti pada Tabel 3.
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Hasil Tes Kemampuan Berpikir Kritis Pra Siklus
No.
Nilai
F
%
1.
86-100
1
4
2.
78-85
4
16
3.
60-77
16
64
4.
50-59
2
8
5.
<50
2
8
25
100
Sumber : data Primer

berikut juga disajikan ketuntasan hasil kemampuan berpikir kritis siswa pra siklus yang tergambar dalam tabel 4
Tabel 4 : Ketuntasan Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Pra Siklus
No.
Nilai
F
%
1.
Tuntas
5
20
2.
Tidak Tuntas
20
80
25
100
Sumber : data primer
Tabel 4 menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa masih tergolong cukup atau masih rendah, hanya 20 % siswa yang tuntas. Kemampuan berpikir kritis dilakukan dengan penilaian individu. Pada saat siswa diskusi maupun presentasi, observer mengamati kegiatan pembelajaran. Masing-masing indikator berpikir kritis diamati kemunculannya pada siswa dalam kelompok.
Pada siklus I topik yang telah ditentukan oleh masing-masing kelompok: 1) macam macam tenaga eksogen yang ada di Indonesia, 2) pelapukan batuan di hutan Cangar,  3) erosi daerah Batu,  4) sedimentasi sungai Brantas  5) mass wasting di daerah Pujon dan 6) pengaruh tenaga eksogen bagi kehidupan, studi khasus bantaran sungai Banyumas.  Hasil observasi siswa tindakan siklus I dapat dilihat pada Tabel 5

Tabel 5 Rata-rata Hasil Observasi Kemampuan Siswa Berpikir Kritis Siklus I
No
Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Rata-rata Skor
Kualifikasi
1
Merumuskan masalah
80.00
Baik
2
Memberikan argumen
73.00
Cukup
3
Melakukan Deduksi
74.00
Cukup
4
Melakukan Induksi
75.00
Cukup
5
Melakukan evaluasi
75.00
Cukup
6
Memutuskan solusi
78.00
Cukup
Rata-rata
75.83
Cukup
(data primer)

Tabel 5 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memberikan argumen belum optimal. Terlihat berdasarkan data bahwa persentase terendah terdapat pada kemampuan memberikan argumen dengan persentase sebesar 73.00%. Berbeda dengan kemampuan merumuskan masalah yang mencapai persentase sebesar 80.00% dengan kategori yang baik. Akan tetapi, secara keseluruhan hasil kemampuan berpikir kritis siswa masih dalam kategori cukup baik. Berikut distribusi frekuensi hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IPS pada siklus I yang disajikan dalam tabel 6
 Tabel 6 : Distribusi Frekuensi Hasil Tes Kemampuan Berpikir Kritis Siklus I
No.
Nilai
F
%
1.
86-100
0
0
2.
78-85
8
32
3.
60-77
17
68
4.
50-59
0
0
5.
<50
0
0
25
100
Sumber : data primer

Berdasarkan tabel di atas tingkat kesuksesan berpikir kritis siklus satu dapat diadaptasi dalam gambar bagan 2 sebagai berikut

Gambar 2 : kemampuan hasil tes berpikir kritis siklus 1
 (sumber data primer )

Kekurangan dalam siklus I diperbaiki dalam siklus II, termasuk dalam proses diskusi dan presentasi dalam kelompok. Berikut topik yang telah ditentukan sendiri oleh masing-masing kelompok: 1) faktor pembentuk tanah,studi khasus bahan induk  2) ciri tanah, praktikum kandungan tanah 3) jenis tanah dan penyebarannya bagian satu, studi khasus tanah gambut di Kalimantan 4) jenis tanah dan penyebarannya bagian dua, studi kasus tanah vulkanis di Batu 5) penyebab dan dampak kerusakan tanah, studi khasus pemanfaatan pupuk kimia  6) teraserring, usaha untuk mengurangi kerusakan tanah.
Hasil pengukuran kemampuan berpikir kritis individu dalam siklus II disajikan dalam Tabel 7
Tabel 7 : Rata-rata Hasil Observasi Kemampuan Siswa Berpikir Kritis Siklus II
No
Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Rata-rata Skor
Kualifikasi
1
Merumuskan masalah
90
 Sangat Baik
2
Memberikan argumen
85
Baik
3
Melakukan Deduksi
85
Baik
4
Melakukan Induksi
81
Baik
5
Melakukan evaluasi
84
Baik
6
Memutuskan solusi
88
Baik
Rata-rata
85,5
Baik
Sumber : data primer

Untuk frekuensi hasil tes kemampuan berpikir kritis siklus 2 disajikan dalam tabel 8 yang selanjutnya tingkat ketuntasan berpikir kritis siklus II disajikan dalam gambar 3
Tabel 8 : Distribusi Frekuensi Hasil Tes Kemampuan Berpikir Kritis Siklus II
No.
Nilai
F
%
1.
86-100
6
24
2.
76-85
7
28
3.
60-75
9
36
4.
50-59
3
12
5.
<50
0
0
25
100
Sumber : data primer


Gambar 3 : hasil kemampuan berpikir kritis siklus II
(sumber : data primer)

ANALISIS DATA
Analisis data yang dilakukan meliputi analisis terhadap data kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Malang mulai dari pra siklus, siklus I, hingga siklus II. Berikut paparan rata-rata hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa beserta ketuntasan hasil tes yang diperoleh digambarkan dalam tabel 9:
Tabel 9 : Rata-rata Hasil Tes Kemampuan Berpikir Kritis
Tindakan
Rata-Rata Hasil Tes
Ketuntasan Hasil Tes (%)
Pra Siklus
70,67
20
Siklus I
75,83
32
Siklus II
85,50
88
Sumber : data primer

Berdasarkan tabel tersebut, rata-rata hasil tes kemampuan berpikir kritis dari pra siklus atau sebelum dilakukan tindakan sampai dengan siklus II dengan menggunakan model pembelajaran GI mengalami peningkatan. Berikut gambar grafik peningkatannya:
Gambar 4. Grafik Peningkatan Rata-rata Nilai Tes Kemampuan Berpikir Kritis
(sumber : data primer)

Berdasarkan grafik tersebut, tampak bahwa nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Malang mengalami peningkatan dari pra siklus, siklus I, hingga siklus II. Rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kritis dari pra siklus ke siklus I mengalami kenaikan sebesar 6,8 % dari rata-rata nilai 70.67 menjadi 75.83. Sedangkan rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kritis dari siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 11,8%, dari rata-rata nilai 75,83 menjadi 86. Berikut ini disajikan grafik peningkatan daya serap klasikal kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IPS.
Gambar 5 : Grafik Peningkatan Ketuntasan Hasil Tes Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X IPS
(sumber : data primer)
Berdasarkan grafik tersebut, tampak bahwa kenaikan nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kritis siswa diikuti pula dengan kenaikan ketuntasan. Ketuntasan hasil tes siswa meningkat dari pra siklus sebesar 20% menjadi 32% pada siklus I. Sedangkan dari siklus I ke siklus II ketuntasan siswa meningkat dari siklus I sebesar 32% menjadi 88% pada siklus II. 
Penilaian kemampuan berpikir kritis siswa juga didasarkan oleh hasil observasi yang dilakukan oleh 3 observer melalui lembar observasi kemampuan berpikir kritis. Berikut paparan hasil observasi kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan indikatornya.
Tabel 10 Rata-rata Tindakan Hasil Observasi Kemampuan Berpikir Kritis
No
Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Rata-Rata Tindakan
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
1
Merumuskan Masalah
-
80.00
90.00
2
Memberikan Argumen
-
73.00
85.00
3
Melakukan Deduksi
-
74.00
85.00
4
Melakukan Induksi
-
75.00
81.00
5
Melakukan Evaluasi
-
75.00
84.00
6
Memutuskan Solusi
-
78.00
88.00
Rata-rata
-
75.83
85.50
Sumber : data primer

Untuk lebih jelasnya berikut disajikan grafik peningkatan rata-rata hasil observasi kemampuan berpikir kritis siswa pada model pembelajaran GI dari siklus I hingga siklus II.
Gambar 6 : Grafik Peningkatan Hasil ObservasiKemampuan Berpikir Kritis

Berdasarkan tabel dan grafik di atas tampak bahwa rata-rata hasil observasi siswa pada pada kemampuan berpikir kritis meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 75,83 ke 85,5. Sedangkan menurut aturan skala Likert, kategori rata-rata hasil observasi pada kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I adalah ”cukup” dan pada siklus II meningkat menjadi ”baik”. Hal tersebut mempengaruhi ketuntasan belajar dan juga daya serap klasikal siswa pada tes kemampuan berpikir kritis.


PEMBAHASAN
a.      Temuan dalam pelaksanaan Grup Investigasi
Dalam proses pelaksanaan model pembelajaran Grup investigasi peneliti menemukan beberapa  kelebihan yaitu : 1) Siswa terlibat secara aktif pada setiap tahapan GI mulai dari penentuan topik, perencanaan, melakukan investigasi, penulisan laporan, presentasi, hingga evaluasi. Hal ini dapat dilihat pada hasil penilaian observasi kemampuan berpikir kritis siswa serta hasil observasi kegiatan GI yang dilakukan oleh guru dan juga observer.  2) Diskusi kelas (baik pada saat diskusi identifikasi topik permasalahan maupun pada saat presentasi kelompok) berjalan dengan lancar meskipun hanya beberapa siswa yang terlibat aktif dalam diskusi. 3 ) Pada saat mengerjakan tes kemampuan berpikir kritis, siswa tampak tenang dan tidak ada yang menyontek pekerjaan teman lain  .Adanya peningkatan hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa.
Pada siklus I peneliti menemukan beberapa kekurangan dalam proses pelaksanakan model Grup Investigasi yaitu : 1)Pembentukan anggota kelompok secara heterogen oleh guru kurang disetujui oleh sebagian besar siswa. Hal ini tampak dari adanya rasa ketidakyamanan beberapa kelompok pada saat melakukan kegiatan kelompok yang berimbas pada laporan mereka. 2) Sebagian kelompok kurang memahami apa yang harus mereka lakukan pada kegiatan GI. 3) Partisipasi siswa dalam diskusi dan presentasi hasil akhir masih kurang, terbukti hanya beberapa siswa yang bertanya maupun mengemukakan pendapatnya. 4)Persiapan siswa dalam presentasi topik masih kurang, terbukti dalam kegiatan presentasi siswa membaca penuh power point yang ditampilkan.
Saat memasuki siklus II peneliti sudah melakukan perbaikan berupa : 1)Pembentukan kelompok dipilih oleh siswa secara mandiri namun tetap heterogen agar mereka lebih nyaman dan lebih semangat serta fokus dalam melakukan setiap tahapan GI. 2) Menjelaskan tentang model pembelajaran GI agar siswa benar-benar memahami setiap langkah yang akan mereka lakukan. 3) Guru lebih fokus dalam membimbing setiap kelompok dalam melakukan kegiatan GI agar semua kelompok mengerjakan dengan optimal dan sesuai dengan yang diharapkan. 4) Memancing minat siswa untuk bertanya dengan memberikan reward.
Pada pelaksanaan penelitian pembelajaran dengan model Group Investigation (GI) di kelas X IPS SMA Negeri 1 Malang pada siklus I dan II, diperoleh beberapa point utama yaitu : 1) Model pembelajaran GI sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Karena dalam setiap tahapan GI,  mulai dari mengidentifikasi topik, melakukan perencanaan, melakukan investigasi, menyusun laporan akhir, melakukan presentasi, hingga evaluasi, siswa dituntut untuk senantiasa berpikir kritis dalam menyelesaikan kegiatan investigasi mereka sesuai dengan topik atau permasalahan yang mereka ambil. 2)Peningkatan hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa beserta daya serap klasikal, terjadi seiring dengan adanya peningkatan hasil observasi kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran GI yang diketahui dari peningkatan rata-rata hasil observasi yang diisi oleh observer. Dan yang terakhir 3) Model pembelajaran GI sangat tepat diterapkan pada materi geografi yang bersifat komprehensif dan kontekstual seperti materi Lithosfer dengan sub materi eksogen dan pedosfer.   

b.      Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dengan Group Investigation
Model pembelajaran Group Investigation (GI) mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dari pra siklus, siklus I, hingga siklus II. Hal tersebut terlihat pada nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kritis siswa yang meningkat dari pra siklus ke siklus I dengan rata-rata nilai 70.33 pada pra siklus menjadi  75.83 pada siklus I. Sedangkan dari siklus I ke siklus II rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kritis siswa meningkat dengan nilai rata-rata 75.83 pada siklus I menjadi 85.50 pada siklus II. Selain terjadi peningkatan rata-rata pada hasil tes, peningkatan juga terjadi pada ketuntasan hasil tes siswa. Ketuntasan hasil tes siswa meningkat dari pra siklus sebesar 20 % menjadi 32% pada siklus I. Sedangkan dari siklus I ke siklus II ketuntasan siswa meningkat sebesar 32 % dari siklus I menjadi 88% pada siklus II. 
Peningkatan nilai dari pra siklus ke siklus I tersebut disebabkan pada pra siklus atau sebelum dilakukan sebuah tindakan, siswa belum terlatih untuk berpikir kritis pada pembelajaran sebelumnya (berdasarkan hasil observasi). Sedangkan pada pembelajaran siklus I siswa mulai dilatih untuk berpikir kritis melalui model pembelajaran GI. Namun demikian hasil yang diperoleh melalui tes kemampuan berpikir kritis yang dilakukan pada akhir siklus I, belum menunjukkan ketuntasan belajar yang diharapkan. Hal ini karena siswa belum memahami secara keseluruhan dengan baik tahapan-tahapan yang harus mereka laksanakan pada pembelajaran GI. Selain itu juga pemilihan anggota kelompok oleh peneliti secara heterogen ternyata justru membuat sebagian besar siswa tidak nyaman bekerja dengan anggota kelompoknya. Hal ini berimbas pada kinerja kelompok, hasil diskusi dan investigasi berupa laporan akhir, serta hasil tes kemampuan berpikir kritis.
Tahapan dalam pembelajaran GI mulai dari mengidentifikasi topik, melakukan perencanaan, melakukan investigasi, membuat laporan akhir, melakukan presentasi, hingga evaluasi mampu melatih kemampuan berpikir kritis siswa seperti yang telah diuraikan pada bab II. Oleh karena itu apabila setiap tahapannya tidak dilakukan secara maksimal, maka pada saat tes kemampuan berpikir kritis, siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Hal itu yang menyebabkan nilai tes kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I belum mencapai ketuntasan yang ditentukan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tindakan pada siklus I belum dinyatakan berhasil dan dilanjutkan pada tindakan siklus II dengan memperhatikan hasil refleksi dari siklus I.
Hasil yang diperoleh pada siklus II mengalami peningkatan yang lebih baik dari siklus I. Hal ini dipengaruhi oleh penyempurnaan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II berdasarkan hasil refleksi pada tindakan siklus I. Pada pembelajaran siklus II, siswa diberi kebebasan untuk memilih anggota kelompoknya dengan harapan kenyamanan dan semangat kerja siswa lebih tinggi dengan anggota kelompok yang dipilih secara mandiri. Selain itu juga siswa telah terlatih untuk berpikir kritis pada proses pembelajaran atau pertemuan sebelumnya, terhitung mulai dari tindakan siklus I sampai dengan akhir siklus II selama 6 kali pertemuan, sehingga mereka tidak begitu kesulitan dalam mengerjakan soal dengan tingkat kognitif yang sama namun beda topik.
Peningkatan hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa beserta ketuntasan hasil tes terjadi seiring dengan adanya peningkatan aktivitas siswa pada pembelajaran GI. Hal ini tampak dari prosentase hasil observasi kemampuan berpikir kritis siswa yang meningkat pada siklus I dengan kriteria ”cukup” menjadi kriteria ”baik” pada siklus II.
Penerapan model pembelajaran GI dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain: (1) adanya pengelompokan siswa secara heterogen, sehingga siswa yang berkemampuan tinggi dapat membantu siswa yang berkemampuan rendah, (2) siswa memperoleh pengetahuan atau informasi yang lebih banyak karena tidak semua anggota kelompok memiliki pikiran atau pendapat yang sama sehingga ide atau gagasan yang akan diperoleh lebih bervariasi, (3) melalui diskusi kelompok dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang lebih baik dan beragam, (4) pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang dibahas dapat lebih meningkat karena siswa terlibat langsung secara aktif dalam pembentukan pengetahuan, (5) dalam pembagian tugas, setiap siswa mempunyai tanggung jawab yang jelas dalam kelompoknya, (6) Selain itu, GI juga melibatkan siswa menggunakan inquiry cooperative (perencanaan dan diskusi kelompok) kemudian mempresentasikan hasil temuan mereka di depan kelas, sehingga akan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, menekankan pada pengalaman belajar di lapangan secara aktif dan kooperatif, sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk menemukan masalah dan berupaya menemukan 50 pemecahannya sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Sharan (1989) yang menyatakan bahwa model pembelajaran GI dapat memberikan berbagai manfaat akademik, kemampuan berpikir, sosial dan psikologi siswa melalui keunggulan yang dimiliki model pembelajaran ini.
Model pembelajaran GI terbukti dapat dijadikan pilihan dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa secara mandiri. Hal tersebut sejalan dengan teori belajar konstruktivisme Piaget yang melandasi lahirnya model pembelajaran GI. Menurutnya, pengetahuan merupakan hasil konstruksi pikiran manusia dari elemen-elemen informasi, perasaan, dan pengalaman, bukan dari sesuatu yang ada di dunia luar (Sharan and Sharan dalam McRorie, 1999). Model pembelajaran ini merupakan aplikasi dari teori tersebut yang menekankan partisipasi dan aktivitas siswa untuk membangun sendiri pengetahu-annya mengenai topik atau permasalahan yang mereka tentukan sendiri berdasar-kan minat dan kesenangan masing-masing. Menurut Winataputra (2001), setiap tahapan dalam model pembelajaran GI dirancang untuk membimbing siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai hal mengenai masalah tersebut, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan menguji hipotesis, serta membuat kesimpulan berdasarkan hasil analisis dan sintesis terhadap data yang relevan. Selain itu model pembelajaran GI memungkinkan siswa bekerja dalam kelompok sehingga penemuan terhadap masalah menjadi lebih tepat, mendalam, dan kompleks, begitu juga dengan data yang perlu dikumpulkan melalui eksplorasi, serta kegiatan analisis dan sintesis terhadap data yang telah dikumpulkan. Hal ini memerlukan  kemampuan tingkat tinggi dalam artian berpikir kritis. Sehingga kemampuan berpikir kritis dan juga kemampuan berkomunikasi inter maupun intra personal siswa menjadi lebih meningkat melalui model pembelajaran ini.
Dalam model pembelajaran GI, siswa pada saat belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang terbuka dalam hubungan pribadi yang saling membutuhkan serta demokrasi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, sehingga lebih memungkinkan pengembangan nilai, sikap moral dan kemampuan berpikir kreatif siswa. Selain itu keterbukaan yang terjalin akan menambahkan pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari sehingga kemampuan berpikir kritis siswa dapat diperoleh secara maksimal. Keseluruhan penelitian yang dilakukan, baik penelitian yang telah dilakukan peneliti maupun penelitian terdahulu dengan varibel yang berbeda menunjukkan bukti empiris bahwa model pembelajaran GI merupakan model pembelajaran yang kompleks, komprehensif, dan mampu meningkatkan kualitas siswa. Diantaranya adalah mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, hasil belajar, aktivitas siswa, keaktifan dalam pembelajaran, kemampuan interpersonal (kemampuan individu) dan intrapersonal (kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam kelompok).  
KESIMPULAN dan SARAN
Penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Malang. Hal ini dapat dilihat dari  nilai kemampuan berpikir kritis siswa yang meningkat dari pra siklus ke siklus I  dan ke siklus II. Saran yang diberikan oleh peneliti adalah 1) Pembentukan kelompok hendaknya dipilih sendiri oleh siswa secara mandiri namun tetap heterogen. Hal ini agar mereka merasa lebih nayaman dan lebih semangat untuk mengikuti setiap tahapan pembelajaran dengan menggunakan model GI. 2)Langkah-langkah pada model pembelajaran GI hendaknya dijelaskan secara detail. Hal ini agar siswa benar-benar memahami setiap langkah-langkah yang akan mereka lakukan, mengingat bahwa model pembelajaran GI masih jarang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. 3)Guru lebih focus dalam membimbing kelompok dalam melakukan langkah-langkah model pembelajaran GI. Guru berkeliling pada masing-masing kelompok untuk memantau aktivitas siswa dalam investigasi agar siswa dapat mengerjakan secara optimal dan sesuai dengan yang diharapkan.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Bumi Aksara
Dewi, Nova. 2013. Penerapan Metode Pembelajaran Koperatif Model Group Investigation (GI) untuk Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa terhadap Mata Pelajaran Sejarah di SMP 06 Malang Kelas VIII 2. Skripsi Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang: Tidak Diterbitkan
Ennis, Robert. H. 2002. An Outline Of Goals for A Critical Thinking Curriculum  and Its Assesment, (Online), (http://www.criticalthinking.net/goals.html, diakses tanggal 28 September 2015
Fajarwati, Sri Handayani. 2010. Pembelajaran Kontekstual Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X.1 SMAN 1 Tumpang. Skripsi Jurusan Pendidika Fisika FMIPA UM:Tidak diterbitkan.
Fatchan, Ahmad & I Wayan Dasna. 2009. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Jenggala Pustaka Utama
Fisher, Alec. 2009. Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Jakarta: Erlangga
Handoyo, Budi. 2012. Kompetensi Mata Pelajaran Geografi SMA Masalah dan Pengembangannya (Sebuah Kajian Reflektif)). (online). (http://hangeo_ another_WordPress.com_site.htm). Diakses tanggal 24 September 2015.
Handoyo, Budi. 2012. Pendidikan geografi indonesia dalam perspektif lintas negara (sebuah studi pendahuluan: tujuan, struktur dan ruang lingkup. (online). (http://hangeo.WordPress.com_site.htm). Diakses tanggal 24 September 2015.
Johnson, David W, dkk. 2007. Cooperative Learning Methods: A Meta-Analysis. (online). (http://university.of.minneosta/clmethods-meta-analysis.pdf). Diakses tanggal 24 Juni 2015.
Latipah, Eva. 2012. Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogjakarta: PT. Pustaka Insan Madani.

McRorie, Karen. 1999. The Playground Project: A Case Study in Participatory Design. Thesis. Canada. University of Windsor
Nurhai, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Nuri Megawati, Candra. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa pada Mata Pelajaran Geografi Kelas X di SMA Negeri 1 Batu. Skripsi Jurusan Geografi Universitas Negeri Malang: Tidak Diterbitkan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah .
Pritasari, Ajeng Desi Crisandi. 2011. Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPA 2 SMAN 8 Yogyakarta pada Pembelajaran Matematika melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI). (online), (http://eprints.uny.ac.id/2384/1/skripsi_(ajeng_desi-07301241049.pdf). Diakses 24 Juni 2015. 
Rochmawati, Rezki. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII F SMP Negeri Kawedanan Magetan. Skripsi Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang: Tidak Diterbitkan
Shara, Yael and Sharan, Shlomo. 1989. Group Investigation Expands Cooperative Learning. Educational Leadership, (Online), 47 (4): 17-21, (asdc.org), diakses 28 September 2015.
Sumarmi. 2012. Model-Model Pembelajaran Geografi. Malang: Aditya Media Publishing.
Susil, Herawati, dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas: Sebagai Sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru dan Calon Guru. Malang: Bayumedia Publishing
Syifa’, Miftakhu. 2010. Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Siswa Kelas X-9 SMA Negeri 1 Tumpang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang.
Winattra. 2001. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka
Zingo,Daniel. 2008. Group Investigation: Theory and Practice, (Online), (www.danielzingaro.com), diakses 26 Desember 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar