Rabu, 22 April 2015

Cerita pedasnya Lombok di okbibab , Pegunungan bintang Papua




Cabe adalah sesuatu yang ndak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari hari, khusunya ketika makan. Kegemaran orang Indonesia makan cabai dipercaya berlangsung sejak dulu. Menurut sejarah, cabai menjadi komoditas penting di Indonesia sejak masa Jawa Kuno dan menjadi makin familiar dengan lidah orang Indonesia. Dari awal, menu sambal memang paling praktis, mudah dibuat, dan bisa disandingkan dengan makanan lain. Tidak hanya itu, banyak yang bilang kalau makan sambal terasi pakai nasi hangat dan lauk tempe rasa nikmatnya melebihi hidangan di restoran bintang 5. Lidah Indonesia juga sudah sangat familiar dengan sambal bawang, sambal dabu-dabu, sambal ijo, sambal matah, sambal tomat dan lainnya. Selera makan makin meningkat biarpun harus berkeringat deras. Bahkan beberapa makanan diberi label dengan tingkat kepedasan level 1 hingga level 10. Sekilas membayangkan kenangan indah bercengkrama dengan sambal.

Apalagi hidup di daerah sedingin Abmisibil yang selalu berteman dengan kabut. Makan dengan sesuatu yang pedas dan panas adalah sebuah kenikmatan tersendiri, ya macam naik surga di tangga pertama.Haiyaa... Kata mbah “google” rasa pedas yang dihasilkan oleh cabai dapat menstimulasi sekresiendorphin  oleh hipotalamus. Hipotalamus sendiri adalah kelenjar dibawah otak yang akan bereaksi bila tubuh merasakan sakit luar biasa, dan disini rasa pedas dikenali oleh jaringan syaraf tubuh sebagai rasa sakit sehingga secara alami tubuh mengeluarkan endorphin, yaitu senyawa yang mirip dengan morphin. Karena itulah kenapa orang yang hobi makan makanan pedas sudah seperti kecanduan karena tubuh memproduksi morphin alami. Satu hal yang sangat disayangkan cabe ndak bisa tumbuh subur di daerah. Bisa dibilang cabe adalah barang langka. Sungguh jauh panggang dari api.
Sebagai orang asli jawa, makan tanpa rasa pedas sungguh sangat hambar. Bahkan terkadang seperti ndak makan. Alhasil saya dan teman teman mencari cara biar bisa menikmati rasa pedas. Pucuk dicinta ulam tiba, pastor turun ke kota naik pesawat. Alamat bakal hidup makmur lidahku. Sambal instan menjadi list pertama yang ada di barang titipan belanja ke kota. Dan akhirnya kita bisa menikmati pedas dari pedas sambel instan. Konon katanya berbagi itu indah, maka satu kaleng lain dikirim ke teman senasib sepenanggungan di distrik sebelah Okbab. Secara disana kan ndak ada warung dan aksesnya lebih sulit. Dan 3 kaleng sambal instan ludas sebelum pekan ketiga. Tak disangka sambal kalengan yang kita kirim, diganti dengan satu tumpuk cabe dari Okbab..wak..wah...wah...ternyata disana cabe banyak juga tu.bisa dimanfaatin ni.
Terinspirasi dari hal tersebut teman teman guru akhirnya memberlakukan subsidi silang. Apapun acaranya, harus ditukar dengan cabe. Mie instan ditukar cabe, roti ditukar cabe, permen ditukar cabe bahkan hukuman pun juga musti bawa cabe. Mulai anak yang telat, ndak ngerjain tugas, bolos dan lainnya, hukumannya bawa cabe..maklum cabe barang langka. Dua minggu hukuman sudah berlaku, tapi karena siswa dari balik gunung ndak pulang, cabe yang didapat hanya sedikit, ndak cukup untuk memenuhi rasa pedas kami. Perbanyak doa saja, itulah yang kami lakukan.
Waktu yang ditunggu tiba. Setelah libur akhir pekan 2 orang murid dari SMP dan 1 murid dari SMA datang dari distrik sebelah dengan membawa satu plastik cabe. Cabe di daerah dingin itu keci kecil, sekitar ¼ nya cabe normal. Anggapan kita ini cabe kecil, pasti ndak pedes, wong biasanya bikin sambel juga ndak kerasa. Teman teman memutuskan buat bikin  sambel maut ala Pegunungan Bintang. 250 butir cabe imut diulek dalam sekali sambal. Hm....maknyus....efeknya mules2 yang tak tertahankan menyerang semua anggota rumah kami. efek pedas cabai bener bener bikin lambung perih. Kamar mandi menjadi tempat antrian yang panjang. Gedoran demi gedoran kamar mandi menjadi musik dari pagi sampe pagi lagi..bener bener tobat.
Keesokan harinya disaat gangguan pedes2 setengah mati dengan segala teman temannya menyerang kami, banyak siswa yang malah mengantar rica-rica alias cabe sebagai oleh oleh dari siswa yang pulang kampung. Tuhaaan please, inikah rencanaMu. Sungguh hebat nian menggedor nurani. Satu pelajaran berharga dari yang namanya rica rica. “sukur itu harus ada apapun kondisinya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar