Minggu, 16 Agustus 2015

sekilas tentang distrik Okbibab, Pegunungan Bintang


Distrik Okbibab berada disebelah utara ibukota kabupaten Pegunungan Bintang. Distrik Okbibab merupakan distrik tertua di kabupaten di Kabupaten Pegunungan Bintang. Ibukota distrik okbibab yaitu Abmisibil. Pada tahun 2014 merupakan umur emas bagi Distrik Okbibab, karena Distrik Okbibab tepat berusia 50 tahun. Ibu Kota Distrik Okbibab adalah Abmisibil.
Batas wilayah Distrik Okbibab adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara         : Distrik Aboy
Sebelah Selatan      : Distrik Oksibil
Sebelah Barat         : Distrik Borme
Sebelah Timur         : Distrik Kiwirok
Distrik Okbibab terdiri dari 8 kampung yaitu sebagai berikut:


1.      Abmisibil
2.      Manunggal
3.      Atolbol
4.      Okbifisil
5.      Oktanglap
6.      Oksemar
7.      Iriding
8.      Abmifisil


 Sarana transportasi utama untuk menuju ke Distrik Okbibab hanya dengan kendaraan udara (pesawat). Jalan darat yang dapat dilalui hanya dengan jalan kaki, karena hanya jalan setapak saja yang tersedia. Di daerah Abmisibil beriklim tropis, dengan dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kedua musim tersebut sulit diprediksi karena hujan yang tidak menentu dan bisa datang setiap saat. Suhu berkisar antara 100 C sampai dengan 200 C. pada malam hari angin berhembus dari pegunungan kearah lembah, sehingga udara di malam hari terasa sangat dingin. Topografi distrik okbibab yaitu jajaran gunung yang menjulang tinggi berkisar 3700 mdpl. Udaranya sangat dingin terlebih bila mendekati bulan purnama.
Kondisi Distrik Okbibab jauh lebih baik dari pada Distrik yang lain, karena Distrik Okbibab merupakan Distrik tertua. Di Abmisibil penerangan listrik dari tenaga air sudah tersedia 24 jam, air bersih dan air dari sumber mata air sudah ada, dan telekomunikasi melalui telephon satelit serta SSB. perlu waspada ketika hujan turun dengan deras, hal ini menyebabkan perputaran kincir yang menggerakkan generator terganggu. yang terjadi biasanya listrik padam. kebutuhan vital di Abmisibil yang kurang hanya signal.

Dari kondisi ekonomi, masyarakat mayoritas dalam golongan menengah ke bawah. Mayoritas dari penduduk Okbibab bermata pencaharian sebagai petani, mereka mengolah sumber daya alam yang ada disekitar kampung.  Tanaman yang banyak terdapat didaerah ini adalah boneng yaitu sebutan untuk ubi. Mereka bercocok tanam dengan cara yang masih tradisional. 
Selain sebagai petani penduduk Okbibab juga memanfaatkan air yang melimpah dengan membuat kolam-kolam ikan. Ikan yang dibudidayakan antara lain ikan nila dan ikan mas. Cara pengelolaannyapun juga masih sangat sederhana sehingga hasil yang didapat tidak begitu maksimal. Mengenai pemasaran hasil ikan juga belum begitu luas sampai keluar daerah, rata-rata mereka menjual hasil ikan serta hasil kebun hanya disekitar kampung saja. Namun terdapat juga sebagian anggota keluarga merupakan pejabat penting pemerintahan. Masyarakat yang termasuk golongan menengah keatas biasanya akan lebih memperhatikan pendidikan. Tidak sedikit pula masyarakat Abmisibil ini yang menjadi PNS. Bahkan kepala Distrik Okbibab merupana penduduk asli Abmisibil. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Abmisibil sudah mulai berkembang. 

Masyarakat masih memegang teguh budaya, tradisi, dan adat istiadat yang sudah ditetapkan sejak dahulu kala. Seperti acara penyambutan tamu, kematian, kelahiran seorang bayi, acara keagamaan, hingga merayakan harlah sekolah. Di Abmisibil masih terdapat rumah honai yang merupakan rumah adat, seperti halnya di daerah Papua lainnya.  Kepercayaan apabila ada perempuan yang mendekat tanpa seijin pemilik rumah, maka akan mendatangkan musibah pada perempuan tersebut. Tempat tinggal para penduduk di Okbibab berasal dari katu serta atap dari seng dengan ukuran yang tidak begitu besar. Mereka sudah banyak yang meninggalkan rumah adat yang disebut Honai dengan alasan rumah dari dinding kayu dan atap seng lebih hangat bila dibanding dengan Honai. Selain itu penduduk Okbibab juga sudah mengenal pakaian seperti penduduk Indonesia lainnya. Mereka tidak lagi memakai koteka sebagai pakaian keseharian. Koteka hanya dipakai ketika diadakan acara-acara adat. Untuk merayakan suatu peristiwa penting, tidak ketinggalan oksang atau tarian adat dengan menggunakan pakaian adat. Seiring berjalannya waktu, pakaian adat yang digunakan sudah mengalami sedikit perubahan. Hal ini disesuaikan dengan kesopanan dan etika yang ada.
Rata-rata Penduduk Okbibab sudah mengenal Agama, 90% beragama katolik dan 8 % beragama protestan dan sekitar 2% beragama islam. Kerukunan antar umat beragama serta toleransi  sangat terasa sekali. Hal ini terlihat ketika mengadakan upacara bakar batu. Biasanya setiap ada acara perpisahan sekolah, ulang tahun sekolah ataupun ulang tahun gereja selalu diadakan acara adat bakar batu, yaitu sejenis masak tradisional dengan media batu. Terdapat 2 tempat untuk bakar daging. Bagian lubang pertama khusus untuk bakar batu dengan daging babi sedangkan lubang ditempat terpisah  untuk  bakar batu daging ayam untuk kaum muslim ala Papua.

Nikmatul Istikhomah, guru kontrak di SMAN Okbibab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar