PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
UNTUK
MENINGKATKAN KETRAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA MATERI LITHOSFER MATA PELAJARAN GEOGRAFI SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 1 MALANG
Nikmatul
Istikhomah* Budi Handoyo *
Jurusan
Geografi Universitas Negeri Malang
Jalan
Semarang 5, Malang 65145
Email: nikmatul.istikhomah@gmail,com
Abstrak:
Permasalahan yang terjadi di kelas X IPS SMA N 1 Malang adalah rendahnya
kemampuan berpikir kritis siswa, terlihat selama pembelajaran hanya beberapa
siswa yang aktif bertanya dengan kualitas pertanyaan berpikir kritis dan
jawaban siswa pun masih berdasarkan buku, belum mampu menganalisis. Adapun
tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan peningkatan kemampuan siswa
berpikir kritis. Penelitian ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom
Action Research). Model yang digunakan pada penelitian ini adalah Group
Investigasi. Langkah model terdiri dari mengidentifikasi topik dan
pengelompokan, merencanakan penyelidikan, melaksanakan penyelidikan, menyiapkan
laporan akhir, menyajikan laporan dan evaluasi. Obyek penelitian
ini adalah siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Malang. Kegiatan pembelajaran terdiri
dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan,
pelaksanaan,observasi, dan refleksi. Kemampuan berpikir kritis siswa sebelum
tindakan sebesar 70,33 , pada tindakan siklus I kemampuan berpikir kritis siswa
meningkat menjadi 75,83. sedangkan pada tindakan siklus II kemampuan berpikir
kritis siswa mengalami peningkatan menjadi 85,50.
Kata-kata Kunci: Grup investigasi, berpikir kritis
Kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif, sistematis, dan
logis sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai perubahan dalam perkembangan
zaman. Beberapa kemampuan tersebut termasuk dalam kompetensi masa depan yang
harus dimiliki oleh siswa. Sumarmi (2013:3) menjelaskan bahwa salah satu
kompetensi masa depan yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan berpikir
kritis.
Kemampuan berpikir kritis perlu dilatih agar siswa lebih
terbiasa untuk melakukannya. Selaras dengan pendapat (Dewi, 2011:1) bahwa siswa
perlu dibiasakan untuk berpikir kritis agar mereka memperoleh banyak manfaat.
Pihak pemerintah sebenarnya juga sudah menuntut guru untuk melatih siswanya
untuk berpikir kritis. Pernyataan ini sebagaimana yang tercantum dalam
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomer 23 tahun 2006 tentang standar
kompetensi kelulusan bahwa setiap siswa diharapkan dapat menunjukkan
kemampuannya untuk berpikir kritis dan logis.
Kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dan telah tercantum
dalam standar kelulusan dapat dilatih melalui mata pelajaran Geografi.
Sumaatmadja (2001: 20) menyatakan bahwa pembelajaran geografi dapat
mengembangkan kemampuan intelektual tiap orang atau secara khusus para siswa
yang mempelajarinya. Dengan demikian, Geografi memiliki peran untuk melatih
siswa dalam berpikir dan mengembangkan keterampilannya.
Kurikulum 2013
menuntut siswa untuk memiliki high order thinking pada pembelajaran yang
dilaksanakan. Sebagaimana pada KD Menganalisis Hubungan Manusia dengan lingkungan sebagai akibat dari dinamika litosfer
yang menuntut siswa untuk mencapai kompetensi pada ranah
menganalisis. Analisis yang dimaksud adalah permasalahan terjadinya erosi tanah dan permasalahan
kerusakan tanah Adapun pada KD 3.3 Menganalisis dampak sosial letusan gunung api di Indonesia siswa juga dituntut untuk bisa menganalisis. Akan tetapi, pada
kenyataannya belum optimal pelaksanannya.
Demikian pula yang terjadi di SMAN 1
Malang, berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada tanggal 05 dan 07
September 2015 dikelas X IPS belum
menunjukkan adanya pembelajaran yang dapat melatih siswa berpikir secara
kritis. Pembelajaran Geografi yang berlangsung selama ini menggunakan metode
ceramah, pemberian tugas dan kerja kelompok. Metode yang digunakan kurang
melatih siswa berfikir kritis dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari
kegiatan pembelajaran yang ada di kelas didominasi guru sehingga siswa hanya
menerima materi yang diberikan oleh guru, jarang secara mandiri berupaya
memperoleh pengetahuan, sehingga dampaknya interaksi antara siswa dengan siswa
belum optimal.
Berdasarkan pengamatan dan wawancara
tidak tersruktur dengan guru mata pelajaran ditunjukkan dengan 15 siswa dari 26
siswa yang berpartisipasi dalam proses pembelajaran sedangkan siswa yang lain
hanya diam, berbicara sendiri dengan teman sebangku dan cenderung pasif,
sehingga mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Berdasarkan nilai hasil
belajar, rata-rata masih rendah dengan rata-rata kelas yang dicapai hanya 63,59
dari Standar Ketuntasan Minimal 78.
Sebenarnya guru sudah berusaha
mendorong siswa terlibat dalam proses pembelajaran, yaitu dengan memberikan
kesempatan pada siswa untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya yang
berkaitan dengan materi yang sedang disajikan, bahkan guru sudah mengajukan
beberapa pertanyaan yang bersifat permasalahan untuk dijawab oleh siswa, tetapi
hanya beberapa siswa saja yang ikut berpatisipasi mengajukan pertanyaan dan
menjawab pertanyaan yang diajukan guru, sedangkan siswa yang lain hanya diam saja.
Kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran tersebut membuat siswa
tidak terbiasa berfikir kritis sehingga menyebabkan kemampuan berfikir kritis
siswa menjadi lemah.
Pemilihan model pembelajaran yang akan
digunakan pada setiap proses belajar mengajar perlu disesuaikan dengan materi
dan kondisi siswa. Pemilihan model juga disesuaikan dengan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai. Hal yang lebih penting adalah disesuaikan dengan kelebihan
dan kekurangan dari model pembelajaran.