Tampilkan postingan dengan label Grup Investigasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grup Investigasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Desember 2015

PTK : GI Kritis SMA



PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA MATERI LITHOSFER MATA PELAJARAN GEOGRAFI SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 1 MALANG

Nikmatul Istikhomah* Budi Handoyo *

Jurusan Geografi Universitas Negeri Malang
Jalan Semarang 5, Malang 65145
Email: nikmatul.istikhomah@gmail,com

 Abstrak: Permasalahan yang terjadi di kelas X IPS SMA N 1 Malang adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa, terlihat selama pembelajaran hanya beberapa siswa yang aktif bertanya dengan kualitas pertanyaan berpikir kritis dan jawaban siswa pun masih berdasarkan buku, belum mampu menganalisis. Adapun tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan peningkatan kemampuan siswa berpikir kritis. Penelitian ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Model yang digunakan pada penelitian ini adalah Group Investigasi. Langkah model terdiri dari mengidentifikasi topik dan pengelompokan, merencanakan penyelidikan, melaksanakan penyelidikan, menyiapkan laporan akhir, menyajikan laporan dan evaluasi. Obyek penelitian ini adalah siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Malang. Kegiatan pembelajaran terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan,observasi, dan refleksi. Kemampuan berpikir kritis siswa sebelum tindakan sebesar 70,33 , pada tindakan siklus I kemampuan berpikir kritis siswa meningkat menjadi 75,83. sedangkan pada tindakan siklus II kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan menjadi 85,50.

Kata-kata Kunci: Grup investigasi, berpikir kritis

Kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif, sistematis, dan logis sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai perubahan dalam perkembangan zaman. Beberapa kemampuan tersebut termasuk dalam kompetensi masa depan yang harus dimiliki oleh siswa. Sumarmi (2013:3) menjelaskan bahwa salah satu kompetensi masa depan yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan berpikir kritis.
Kemampuan berpikir kritis perlu dilatih agar siswa lebih terbiasa untuk melakukannya. Selaras dengan pendapat (Dewi, 2011:1) bahwa siswa perlu dibiasakan untuk berpikir kritis agar mereka memperoleh banyak manfaat. Pihak pemerintah sebenarnya juga sudah menuntut guru untuk melatih siswanya untuk berpikir kritis. Pernyataan ini sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomer 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi kelulusan bahwa setiap siswa diharapkan dapat menunjukkan kemampuannya untuk berpikir kritis dan logis.
Kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dan telah tercantum dalam standar kelulusan dapat dilatih melalui mata pelajaran Geografi. Sumaatmadja (2001: 20) menyatakan bahwa pembelajaran geografi dapat mengembangkan kemampuan intelektual tiap orang atau secara khusus para siswa yang mempelajarinya. Dengan demikian, Geografi memiliki peran untuk melatih siswa dalam berpikir dan mengembangkan keterampilannya.
 Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk memiliki high order thinking pada pembelajaran yang dilaksanakan. Sebagaimana pada KD Menganalisis Hubungan Manusia dengan lingkungan sebagai akibat dari dinamika litosfer yang menuntut siswa untuk mencapai kompetensi pada ranah menganalisis. Analisis yang dimaksud adalah permasalahan terjadinya erosi tanah dan permasalahan kerusakan tanah Adapun pada KD 3.3 Menganalisis dampak sosial letusan gunung api di Indonesia siswa juga dituntut untuk bisa menganalisis. Akan tetapi, pada kenyataannya belum optimal pelaksanannya.
Demikian pula yang terjadi di SMAN 1 Malang, berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada tanggal 05 dan 07 September 2015 dikelas X IPS  belum menunjukkan adanya pembelajaran yang dapat melatih siswa berpikir secara kritis. Pembelajaran Geografi yang berlangsung selama ini menggunakan metode ceramah, pemberian tugas dan kerja kelompok. Metode yang digunakan kurang melatih siswa berfikir kritis dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari kegiatan pembelajaran yang ada di kelas didominasi guru sehingga siswa hanya menerima materi yang diberikan oleh guru, jarang secara mandiri berupaya memperoleh pengetahuan, sehingga dampaknya interaksi antara siswa dengan siswa belum optimal.
Berdasarkan pengamatan dan wawancara tidak tersruktur dengan guru mata pelajaran ditunjukkan dengan 15 siswa dari 26 siswa yang berpartisipasi dalam proses pembelajaran sedangkan siswa yang lain hanya diam, berbicara sendiri dengan teman sebangku dan cenderung pasif, sehingga mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Berdasarkan nilai hasil belajar, rata-rata masih rendah dengan rata-rata kelas yang dicapai hanya 63,59 dari Standar Ketuntasan Minimal 78.
Sebenarnya guru sudah berusaha mendorong siswa terlibat dalam proses pembelajaran, yaitu dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya yang berkaitan dengan materi yang sedang disajikan, bahkan guru sudah mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat permasalahan untuk dijawab oleh siswa, tetapi hanya beberapa siswa saja yang ikut berpatisipasi mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru, sedangkan siswa yang lain hanya diam saja. Kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran tersebut membuat siswa tidak terbiasa berfikir kritis sehingga menyebabkan kemampuan berfikir kritis siswa menjadi lemah.
Pemilihan model pembelajaran yang akan digunakan pada setiap proses belajar mengajar perlu disesuaikan dengan materi dan kondisi siswa. Pemilihan model juga disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Hal yang lebih penting adalah disesuaikan dengan kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran.